Tak Ingin Pahala Shalat Hilang, Siti Romlah Menolak Umroh Gratis

Program Wali Kota Helmi Hasan untuk memakmurkan masjid berupa “Shalat Berjama’ah Berstimulus Hadiah” telah lama selesai dilaksanakan. Sebanyak 149 peserta dinyatakan keluar sebagai pemenang. Saat ini, para pemenang menanti hadiah umroh gratis yang telah dijanjikan bagi mereka. Namun tanpa diduga, salah seorang peserta menolak hadiah tersebut.

Fahmi, KOTA BENGKULU

Siti Romlah (68) sedang melaksanakan salat sunnah ketika penulis mendatangi rumahnya di Jalan Kinabalu 5 RT 6 Kelurahan Kebun Tebeng, Kamis (24/9) sore. Kami disambut ramah dengan bahasa isyarat oleh Muhammad Yusuf (49), anak sulung Siti Romlah yang belakangan diketahui sebagai penderita tunarungu. Dibutuhkan waktu lama untuk menanti Siti Romlah menyelesaikan ibadah sunnah yang ia laksanakan.

Kediaman janda yang telah 22 tahun ditinggal wafat oleh suaminya ini sendiri tampak tua dan begitu sederhana. Sofa tua yang ia miliki berjejer memanjang di ruang tamu dengan satu kursi meja biasa. Tidak ada satu pun perabotan mahal yang tampak di rumah dengan luas sekira 15X20 meter tersebut. Namun buah dan sayur mayur yang ia tanam di pekarangan rumah membuat kediamannya tampak asri.

“Assalamu’alaikum. Maaf sudah menunggu,” cetus Siti Romlah ketika menyapa kami yang tengah asyik memperhatikan rumahnya.

Setelah menjawab salamnya, kami memperkenalkan diri. Kemudian kami menanyakan perihal program “Salat Berjama’ah Berstimulus Hadiah” yang diikuti oleh Siti Romlah. Sebagai salah satu pemenang, tentunya Siti Romlah berhak atas hadiah umroh gratis yang telah sekian lama tertunda dilaksanakan karena banyaknya hambatan teknis yang dialami oleh Pemerintah Kota Bengkulu.

Namun diluar dugaan, janda anak lima ini justru menolak hadiah umroh gratis tersebut. Kepada penulis, ia menyampaikan kekhawatiran bahwa keinginannya yang besar untuk menginjakan kaki ke tanah suci Makkah justru akan menggugurkan semua pahala salat berjama’ah yang dengan ikhlas, tulus dan khusyuk telah ia lakukan selama mengikuti program “Salat Berjama’ah Berstimulus Hadiah” tersebut.

“Kalau ibadah salat yang saya lakukan kemarin diukur karena mengharapkan sesuatu seperti mobil Innova, motor, kulkas, televisi, atau bahkan haji dan umroh, nilai ibadah saya tentu akan gugur. Lebih baik saya menolak hadiah apapun ketimbang iman dan pahala salat yang saya laksanakan saya tergadaikan,” ujar Siti Romlah tampak yakin dengan keputusannya.

Siti Romlah sepenuhnya sadar, keikhlasan dalam beribadah dapat dirusak oleh tiga hal, yakni riya’, sum’ah dan ujub. Agar terhindar dari tiga hal yang merusak keikhlasan dalam beribadah tersebut, Siti Romlah menyadari pahala ibadah salat yang ia lakukan bisa hilang tanpa arti dan justru akan berbuah keburukan bila ia masih berharap adanya imbalan dari ibadah yang ia laksanakan.

“Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Bila Allah memang memperkenankan saya untuk umroh, Allah pasti akan mendatangkan rezekinya dengan cara yang lain,” tegas Siti Romlah.

Ada alasan lain. Siti Romlah telah akrab dengan masjid sebelum “Salat Berjama’ah Berstimulus Hadiah” diluncurkan oleh Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan. Ia merupakan pengurus masjid Al Huda yang terletak persis di depan rumahnya dan aktif mengajar ngaji di masjid-masjid yang terletak di kawasan Kelurahan Kebun Tebeng.

“Setelah pensiun, saya memilih menjadi guru ngaji bagi ibu-ibu dan anak-anak di beberapa masjid seperti Masjid Jamik dan RRI. Mereka tak perlu mengeluarkan biaya apapun. Syaratnya cukup dengan kemauan yang kuat,” ujarnya dengan semangat yang sulit ditemui pada orang berusia senja.

Nenek yang memiliki belasan cucu ini mengaku tak betah hanya duduk-duduk dirumah. Jiwanya selalu terpanggil untuk berorganisasi. Ia hobi mencari kawan. Bersama rekan-rekan seorganisasinya, ia pernah mengelilingi berbagai daerah. Misalnya ke Semarang, Surakarta dan Padang. Banyak teman-teman baru, pengalaman baru dan pengetahuan-pengetahuan baru tentang keislaman yang ia peroleh dalam setiap perjalanannya ini.

“Saya menilai semua pekerjaan punya nilai ibadah. Makanya ketika saya mendengar Wali Kota mengadakan program itu, saya langsung tertarik. Jangankan di Masjid Akbar Anggut Atas, bahkan bila diselenggarakan di Teluk Sepang yang jauh dari pusat Kota Bengkulu pun saya akan ikut,” tuturnya.

Siti Romlah mengapresiasi program Salat Berstimulus Hadiah a la Wali Kota Helmi Hasan ini. Menurut dia, program ini merupakan ikhtiar yang brilian dalam rangka memakmurkan masjid. Bagi Romlah, program semacam ini jauh lebih baik ketimbang acara-acara hiburan dangdut atau panggung musik yang seringkali dihelat oleh daerah-daerah lain.

“Masjid At Taqwa itu dulu sering sepi, padahal disitu banyak kantor pemerintahan. Suatu hari pernah saya mau salat masjidnya terkunci. Program Wali Kota ini yang akhirnya membuat masjid itu sekarang selalu terbuka kapan saja. Saya berharap program ibadah ini tetap lanjut,” terang Romlah dengan nada meyakinkan.

Bagaimana dengan adanya penolakan beberapa kelompok atas program ini?

Menurut Siti Romlah, sudah sejak zaman Rasulullah SAW, upaya dakwah yang baik pasti akan selalu menemukan rintangan dan penolakan. Romlah menyatakan, orang-orang yang menolak program ini adalah orang-orang syirik.

“Dulu Rasulullah berdakwah sampai diludahi dan dilempari batu. Ini tantangan dakwah di zaman dulu. Pada zaman sekarang tentunya tantangan lebih berat lagi. Wali Kota harusnya gentar,” ujarnya lirih.

Sementara itu, Pemerintah Kota Bengkulu terus berupaya untuk mencari solusi agar para pemenang program “Salat Berjama’ah Berstimulus Hadiah” dapat segera berangkat ke Tanah Suci Makkah. Pasalnya, meski dalam APBD 2015 Pemerintah Kota Bengkulu telah menganggarkan Rp 2,3miliar untuk merealisasikan program ini, namun Kementerian Dalam

Negeri telah mengeluarkan rekomendasi bahwa wewenang untuk menyelenggarakan program ini ada pada pemerintah pusat, bukan pada pemerintah daerah.

Dibagian lain, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Bengkulu, M Sofyan, memastikan akan kembali melakukan konsultasi kepada pihak Kementerian Dalam Negeri untuk menanyakan teknis keberangkatan para pemenang “Salat Berjama’ah Berstimulus Hadiah”. Sofyan berharap langkah yang ia tempuh dapat menegoisasikan penggunaan anggaran dan memberikan kepastian hukum ketika umroh gratis direalisasikan untuk para pemenang. (**)