LIPI
Jenis Salak baru yang ditemukan LIPI di Pulau Enggano (Sumber Foto: LIPI)

BENGKULU, PB – Belum lama ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian di Pulau Enggano, Bengkulu.  Pulau yang luasnya ± 40.060 hektar ternyata menyimpan keanekaragaman hayati. Hasil penelitian tersebut rencananya dipublikasi dalam waktu dekat.

(Lihat juga: LIPI Kaji Desa Adat di Pulau Enggano)

Pulau yang berada di wilayah perairan Sumudera Hindia itu terletak 102,05 derajat hingga 102,25 derajat BT dan 5,17 derajat sampai 5,31 derajat LS. Pulau itu ternyata memberikan informasi yang baru mengenai penyebaran keanekaragaman hayati di Sumatera. Berikut ini hasil reportase Kompas.com terkait dengan ekspedisi penelitian LIPI di Pulau Enggano.

Jenis baru flora bahkan dijumpai pada bangsa tanaman yang sudah dikenal luas. Jahe misalnya. Peneliti LIPI menemukan jahe yang tidak seperti jahe umumnya yang dibuat wedang. Jahe yang dinamai Zingiber engganoensis itu berbeda dengan jahe lain dari daunnya yang lebih tipis serta bunganya yang khas.Amir Hamidy, koordinator ekspedisi Enggano, mengungkapkan bahwa kebaruan spesies jahe itu telah dikonfirmasi dengan analisis DNA. “Bulan depan mungkin sudah akan terbit publikasi spesies baru ini,” ungkapnya dalam konferensi pers di LIPI, Kamis (5/11/2015).

Selain jahe, peneliti juga meyakini bahwa jenis salak yang ditemukan di Enggano merupakan jenis baru. Salak itu sekarang dideskripsikan sebagai asam kelubi (Eleiodoxa conferta). Namun, penampakannya mirip dengan salak umumnya, Sallaca affinis. Peneliti menduga, salak itu khas Enggano.

Dari golongan fauna, peneliti LIPI meyakini ada dua jenis burung baru. Salah satu jenis burung baru adalah burung hantu, Ninox spp. Jenis lain adalah raja udang, Alcedo spp. Raja udang di Enggano berbeda signifikan dengan jenis yang sama di Pagai dan Mentawai.

Dari golongan katak, Amir sebagai peneliti amfibi meyakini ada dua jenis baru. Ia mengatakan, setiap katak memiliki bahasa yang berbeda untuk menarik pasangan. “Bahasa antara katak di Bengkulu dengan di Enggano berbeda. Kalau sudah bahasanya berbeda, berarti jenisnya juga berbeda,” ujarnya.

Dari spesies-spesies yang telah didata, peneliti memperkirakan ada 14 spesies yang diyakini pasti baru. “Satu tumbuhan, 2 katak sudah yakin baru karena analisis genetiknya sudah keluar, 2 kelelawar, 1 jenis ikan, 2 jenis udang, 2 jenis capung, dan 4 jenis kupu-kupu,” urai Amir.

Enggano tidak hanya memberi kejutan karena jenis-jenisnya baru, tetapi juga karena adanya jenis yang tak diduga bisa ditemukan. Salah satunya adalah ular Coelognathus enganensis. Selama 80 tahun, ular itu menghilang. Ekspedisi Enggano pada April-Mei 2015 lalu berhasil menemukannya kembali.

Kejutan lain adalah udang jenis Macrobrachium bariense dan M placidulum. Biasanya, dua jenis udang tersebut dijumpai di timur garius Wallacea atau secara umum di timur Sulawesi. Namun, untuk pertama kalinya, dua jenis itu dijumpai di bagian barat Indonesia.

Dua jenis udang itu dijumpai dalam ukuran yang lebih kecil. Bila di timur garis Wallace ukurannya antara 20-30 sentimeter, di Enggano ukurannya hanya 10-15 sentimeter. Karena itu, para peneliti LIPI meyakini bahwa dua udang tersebut merupakan jenis baru.

Beragam kejutan berupa keanekaragaman hayati bisa dijumpai di Enggano karena pulau tersebut terpisah dari Sumatera. “Karena mengalami isolasi, perkembangan evolusi biotanya juga berbeda. Jadi, biota di Enggano sangat khas dan endemisitasnya tinggi,” kata Amir. (Renda Putri HS)