12767313_1112346352131348_1894395400_n 123

BENGKULU, PB – Rektor Universitas Bengkulu (UNIB) Ridwan Nurazi mengatakan Provinsi Bengkulu masih belum bisa mengoptimalkan kekayaan produk dasar yang ada di daerah ini. Misalnya Bengkulu yang kaya akan gabah ternyata harus mengimpor beras dari provinsi tetangga. Hal ini lantaran gabah tersebut diolah oleh provinsi lain kemudian dijual lagi ke Bengkulu.

Baca juga: Pedagang Beras Wajib Gunakan Kemasan Berlabel Bahasa Indonesia

“Bengkulu ini surplus gabah tapi impor beras. Ini karena gabah kita diproses di Lampung,” kata Ridwan, saat membuka seminar nasional yang diadakan oleh Magister Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIB, Senin (29/2/2016).

Tak hanya gabah, Ridwan menyampaikan hasil penelitian UNIB bersama dengan Bappeda dan Bank Indonesia pada 2012 juga terjadi pada produk dasar lainnya. Kopi misalnya, produk asli Bengkulu ini lebih dikenal berasal dari Lampung ketimbang Bengkulu.

“Kita ini kaya akan kopi, tapi kopi itu dibawa ke Lampung. Jadi yang terkenal kopi Lampung bukan kopi Bengkulu,” jelasnya.

Hal serupa terjadi pada sawit, karet, pisang dan produk unggulan Bengkulu lainnya. Karena itu, ia berharap agar ini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Bengkulu.

“Bengkulu ini butuh pabrik pemrosesan sehingga tidak mengekspor bahan mentah,” jelas pria kelahiran Yogyakarta itu.

Dengan adanya pabrik tersebut, Ridwan yakin akan terjadi peningkatan nilai tambah dari hasil bumi Bengkulu. Dia juga meminta agar kekayaan alam lainnya seperti perikanan dan sayur mayur juga bisa ditingkatkan nilainya.

“Kedepan semoga sayur mayur Bengkulu tidak hanya untuk konsumsi tapi juga bisa dijual ke daerah lain,” pungkasnya. [IC]