P_20160207_062620_1BENGKULU, PB – Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya. Bila manusia tidak beribadah, maka manusia tersebut tidak ada guna hidup di dunia. Hidupnya pun menjadi tiada berarti dan dipastikan akan berakhir dengan sia-sia.

Salah seorang ulama Bengkulu ustad Muhammad Syamlan yang menyampaikan hal itu dalam kuliah subuh di Masjid Darussalam Perumnas UNIB yang berlokasi di Pematang Gurbenur Kota Bengkulu, Minggu, (7/2/2016).

Ia menjelaskan, meski ibadah memiliki cakupan teramat luas, namun yang pokok diantara seluruh ibadah adalah shalat. Ia mengilustrasikan shalat seperti tubuh yang membutuhkan makanan, bila tidak dilakukan, maka tubuh tersebut tidak bisa bergerak melakoni fungsinya dengan baik.

“Kalau shalatnya beres, maka yang lain pasti juga beres. Jika ada ajaran yang muncul dimanapun tempatnya dan tidak mengajarkan shalat yang baik dalam praktek ibadahnya, sudah dipastikan ajaran itu adalah sesat dan menyesatkan,” kata Syamlan.

Shalat yang baik, Syamlan melanjutkan, adalah yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Menurutnya, khusyuk itu bermakna melakukan ibadah dengan tawaduk atau hati yang rela, tulus, ikhlas, sadar dan fokus kepada Allah.

“Orang yang khusyuk itu ketika shalat merasa dirinya berjumpa dengan Allah. Ia sadar bahwa tiada yang bisa memberikan petunjuk dan pertolongan selain Allah. Shalat ini sungguh berat dilaksanakan bagi orang yang tidak khusyuk,” urainya.

Syamlan meneruskan, shalat yang khusyuk bisa dicapai bila manusia dalam keadaan bersih, ikhlas beribadah karena Allah, ihsan seakan-akan senantiasa dilihat oleh Allah, menghayati setiap bacaan shalat, telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan, tambatan hati dan selalu ingat akan mati.

“Shalat adalah bentuk hubungan manusia kepada Allah tanpa perantara. Shalat adalah wujud dzikir kita kepada Allah. Sebagian besar ibadah yang dilaksanakan umat muslim diterima melalui perantara malaikat Jibril. Sedangkan ibadah shalat langsung disampaikan Allah kepada Rasulullah melalui mi’raj,” sampainya.

Shalat sendiri, Syamlan menambahkan, memiliki bermacam-macam jenis, diantaranya shalat fardhu dan shalat sunnah. Shalat fardhu, katanya lagi, adalah shalat lima waktu yang jumlah rakaatnya jelas, waktunya jelas sesuai dengan petunjuk dari Rasulullah.

Sementara shalat sunnah sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu shalat sunah rawatib dan shalat sunah bukan rawatib. Shalat sunnah rawatib ialah shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat lima waktu.

“Sedangkan shalat sunah bukan rawatib ialah shalat sunah bukan rawatib yaitu shalat sunah yang tidak ada kaitannya dengan shalat lima waktu. Shalat sunah rawatib memilki waktu tersendiri dan sebab-sebab dilaksanakannya,” demikian Syamlan. [Zefpron Saputra]