Helmi soft launching rumah sakit (4)Namanya Yani. Ia anak yatim tinggal di Kelurahan Bentiring dengan status menumpang di rumah orang lain. Sesekali dia berjualan sayur mayur dengan modal Rp 200 ribu. Suatu hari sebelum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bengkulu berdiri, Yani mengalami penyakit human papillomavirus (HPV). Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menjenguknya dan bertekad untuk menolong Yani. Dari sinilah awal gagasan membangun RSUD Kota Bengkulu muncul dibenak Helmi.

ZEFPRON SAPUTRA, Kota Bengkulu

NAPAK tilas itu diceritakan Helmi ketika menyampaikan sambutan dalam acara Soft Opening Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bengkulu, Kamis (18/3/2016). Seluruh pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) baik di Provinsi maupun di Kota Bengkulu hadir dalam Soft Launching ini.

Saat itu dikisahkan Helmi, Yani bukan keluarga yang mampu. Selain menjual sayur mayur, keluarganya mengandalkan nafkah dari berjualan barang bekas. Yani dikisahkan Helmi tinggal bersama ibu dan anaknya. Sakit yang diderita Yani, maaf, kata Helmi, dari alat vitalnya keluar darah dan nanah.

“Saat saya mendatangi rumahnya bukan caci maki terhadap Wali Kota yang saya dapat. Ia justru merasa keberatan karena telah merepotkan bapak ibu sekalian. Saat itu air mata saya hampir berderai. Makanya saat itu saya katakan, izinkan saya untuk membawanya ke RSMY,” kata Helmi.

Singkat cerita, Yani harus di rujuk ke Jakarta. Tak jarang Helmi merasa panik, karena sakit Yani sesekali terasa menyengat tak terhankan. Dikala itu Helmi seringkali meminta kepada ajudannya untuk menenangkan Yani dengan sikap yang ramah dan penuh perhatian. Tiga bulan Yani di rawat dengan menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

“Kepada dokter dan perawat saya katakan Yani ini warga Bengkulu dan dia kaya raya. Duitnya Rp 2 triliun dalam APBD Provinsi Bengkulu dan Rp 900 miliar di Kota Bengkulu. Setelah tiga bulan dirawat Yani sembuh,” kenang Helmi.

“Dia lantas pulang satu pesawat dan duduk bersebelahan dengan saya. Katanya saat baru ketemu, Pak Wali, pegang tangan saya. Dengan seketika ia salami dan setelah tangan saya tarik, ada mentos. Katanya, maaf Pak Wali, hanya permen yang bisa saya kasih. Awalnya saya tolak. Tapi katanya dia memberinya dengan ikhlas dan tidak berharap penolakan. Akhirnya saya terima. Bagi saya pemberian seperti ini lebih berharga daripada harta miliar rupiah. Karena tidak semua kebahagiaan diperoleh dari uang,” lanjut Helmi.

Dari kisah Yani ini, Helmi kemudian mendorong agar Pemerintah Kota Bengkulu memiliki rumah sakit sendiri. Alasan lain, menurut Helmi, tidak ada negara di dunia dimana tempat ibu negara pertamanya lahir, tidak ada rumah sakit di tempat tersebut. Karenanya untuk menjaga semangat Fatmawati Soekarno, ibu negara pertama Indonesia, RSUD Kota ini berdiri.

“Dulu banyak yang tidak percaya rumah sakit ini bisa berdiri. Karena modal awalnya hanya Rp 1 miliar. Waktu itu saya katakan kepada Menteri Kesehatan yang dijabat oleh dr Nafsiah Mboi. Ibu menteri, kampung ibu negara pertama kita lahir belum ada rumah sakit. Mari bu, kita bangun agar semangat beliau dalam membangun bangsa bisa kita lestarikan. Seketika beliau langsung setuju. Dan saya minta kalau ibu mau datang, tolong bawa oleh-oleh. Akhirnya beliau ikut meresmikan dengan membawa ambulance,” urai Helmi.

Tak puas hanya mendapatkan bantuan ambulance, Helmi yang juga mantan pimpinan DPRD Provinsi Bengkulu lantas menemui rekan-rekannya para legislator provinsi dan Gubernur Bengkulu. Ia beralasan, baik gubernur, maupun rekan-rekannya di dewan tinggal di Kota Bengkulu. Karenanya, membantu tumbuh kembangnya RSUD Kota Bengkulu ini menjadi tanggungjawab bersama.

“Dan alhamdulillah, dukungan rekan-rekan saya terdahulu sangat tinggi. Kami bahkan bersama-sama untuk melobi agar kementerian bersedia memberikan sumbangsihnya. Sebanyak Rp 12 miliar anggaran kembali disuntikkan ke RSUD Kota Bengkulu. Perlahan-lahan, Kantor Walikota akan diambil. Pada tahun 2017 kelak, saya harapkan seluruh perkantoran di Kantor Walikota ini sudah jadi rumah sakit,” ungkapnya.

Namun Helmi mengingatkan kepada seluruh jajarannya tidak lekas berpuas diri dengan capaian-capaian ini. Helmi mengutip Soekarno, presiden pertama Indonesia yang pernah lama menginjakkan kakinya di Bengkulu, gantungkan cita-cita setinggi langit. Karenanya ia mendorong agar inovasi-inovasi baru terus dilakukan untuk melayani kesehatan rakyat.

“Alhamdulillah, Kepala Dinas Kesehatan katakan kepada saya bahwa Puskesmas-pukesmas kita akan ada tempat rawat inap. Tingkatkan pelayanannya bila rakyat sakit dan giatkan upaya pencegahan agar masyarakat jangan sampai jatuh sakit. Biar saja orang bilang apa terhadap kita. Omongan orang jangan pengaruhi kita. Di akhir jabatan, kita bisa katakan bahwa inilah yang telah kita berbuat. Daripada kita bicara, tapi nyatanya tidak ada yang kita perbuat,” tekannya.

Sementara Direktur RSUD Kota Bengkulu dr Lista Cerlyviera dalam sambutannya mengatakan, rumah sakit yang ia pimpin bisa berdiri akibat dukungan dari semua pihak. Karenanya, ia menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada semua pihak yang turut berperan serta dalam pendirian rumah sakit ini.

“Terutama rekan-rekan yang berada di Dinas Kesehatan Kota yang saat itu dipimpin oleh drg Edriwan Mansyur. Rasa terimakasih juga disampaikan kepada ibu matan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Hendarini yang membantu meregister RSUD Kota Bengkulu sehingga rumah sakit ini terdaftar di Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Lista mengingatkan, saat dilantik pada 17 Januari 2014 oleh Wali Kota Helmi Hasan untuk menahkodai RSUD Kota Bengkulu, ia awalnya didampingi oleh dua orang Kepala Seksi dan tiga orang Kepala Sub Bagian. Pada awalnya, seluruh tenaga medis di RSUD Kota Bengkulu ini bersumber dari tenaga yang ada di Dinas Kesehatan Kota dan seluruh Puskesmas se Kota Bengkulu.

“Awalnya kami pernah dilanda kegalauan hebat. Sampai ada yang meminta untuk kembali dipindahkan ke Puskesmas karena tidak tahu kemana masa depan rumah sakit ini. Hampir tidak ada orang yang mau berobat ke sini pada tahun-tahun pertama,” kisahnya.

Namun berkat kekompakan seluruh aparatur pemerintahan, lanjut dr Lista, banyak dana APBD baik dari provinsi maupun kota yang dikucurkan yang membuat rumah sakit ini pada akhirnya tumbuh dan berkembang dengan pesat. Saat ini, RSUD Kota Bengkulu telah memiliki pelayanan IGD, pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan dengan delapan poliklinik, termasuk penyakit dalam, anak, saraf dan lain-lain. Sementara untuk penunjang ada laboratorium, radiologi, fisiotherapy, mulut dan instalasi gizi.

“Dana APBD yang dialokasikan ke rumah sakit ini sangat signifikan. Pada tahun 2013, awalnya, dana yang dikucurkan hanya Rp 1 miliar untuk merehab gedung bekas DPRD Kota Bengkulu. Pada tahun 2014 kita dibantu oleh APBD Provinsi dan APBD Kota sendiri angkanya mencapai Rp 20 miliar. Pada tahun 2015 anggaran itu melonjak lagi menjadi Rp 30 miliar. Itu semua dari APBD kita. Untuk tahun ini, kita usulkan lagi Rp 38 miliar untuk menyelesaikan pembangunan pelataran, lantai tiga dan lantai empat sebagai ruang perawatan, termasuk tempat fasilitas penunjang yang nanti akan dibangun dibelakang gedung utama,” ucap dr Lista.

Saat ini, RSUD Kota Bengkulu telah memiliki 13 orang dokter spesialis, 2 dokter gigi, 40 perawat, 40 bidan dan 7 apoteker. Untuk tenaga kesehatan yang ada, dr Lista berharap agar Pemerintah Kota menambah tenaga PNS dan menjadikan sejumlah tenaga honorer sebagai tenaga tetap.

“Mudah-mudahan tahun ini ada spesialis putra daerah asli yang dapat kembali ke Bengkulu untuk menangani penyakit dalam dan THT di rumah sakit kita ini. Dengan demikian, upaya kita untuk meningkatkan status rumah sakit kita ini dari tipe D menjadi tipe C dan B dapat segera terwujud,” demikian dr Lista.

Pada Soft Opening ini, Wali Kota Helmi Hasan dan Wakil Wali Kota Patriana Sosialinda melakukan pemotongan tumpeng dan pemotongan pipa tanda diresmikannya gedung baru RSUD Kota Bengkulu. Usai itu, Wali Kota dan Wakil Wali Kota beserta segenap hadirin undangan meninjau setiap ruangan RSUD Kota Bengkulu. Ia menyapa setiap pasien dan memberikan motivasi serta doa agar pasien dapat segera pulih.

Tumpeng yang dipotong kemudian dibagikan kepada seluruh tenaga kesehatan RSUD Kota Bengkulu. Dalam memperingati tiga tahun perjalanannya, direksi rumah sakit juga memberikan bingkisan untuk seluruh pasien yang berisi roti, susu dan buah-buahan. Sejumlah papan nama ucapan memenuhi bagian depan RSUD Kota Bengkulu. [**]

Helmi-Linda menjenguk orang sakit Helmi-Linda tinjau persiapan rumah sakitRSUD Kota Tiga Tahun (2) RSUD Kota Tiga Tahun (1)