100_9970BENGKULU, PB – Budaya dongeng sudah mulai ditinggalkan banyak orang, namun lain hal dengan Samsudin (45), menjadikan dogeng sebagai sarana penggerak yang aktif menyebarkan pesan konservasi alam kepada anak sejak dini melalui media dongeng. (Baca juga: Samsudin dan Sepeda Dongeng Sepanjang Banten – Jambi).

Lewat sepeda kelilingnya, ia selalu mendongeng dengan tema utamanya selalu tentang badak dan hutan. Setiap kunjungan selalu satu judul yang disampaikan, mengkampanyekan pelestarian lingkungan dan habitat badak yang mulai punah. Ia khawatir bila generasi kedepan hanya bisa melihat badak melalui gambar.

“Tentunya Badak tanpa hutan tidak akan ada. Selama melakukan perjalanan dari Jakarta, Bandar Lampung, Taman Nasional Bukit Barisan Selataan, Pino Raya, dan seterusnya selalu dengan pesan yang sama tentang pelestaian badak dan hutan. Kedepan tergantung pengaturan tim lokal,” kata Pendongeng Keliling menggunakan Sepeda, Samsudin (45) Warga Indramayu Jawa Barat itu, baru-baru ini.

Samsudin melakukan kegiatan tersebut dalam rangka memperingati hari Bumi yang jatuh tanggal 22 April mendatang. Ia menungkapkan sejak mulai bersepada dari tanggal 1-22 April 2016, di halaman Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta. Dalam agenda tersebut rute yang akan dilalui yakni Jakarta, Banten, Lampung, menyusuri pantai barat Sumatra melewati Bengkulu dan berakhir di Jambi.

“Dalam upaya membuka mata pelestarian ekosistem badak itu, didukung beberapa lembaga seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Aliansi Lestari Rimba Terpadu (AleRT) Lampung, Unila, WWF Sumatera bagian Selatan, Balai Taman Nasional Way Kambas, dan WCS-IP Southern Sumatera, Ulayat Bengkulu dan Walhi,” ungkap Samsudin.

Dalam kesempatan tersebut Direktur Ulayat Bengkulu, Martian selaku tuan rumah mengapresiasi apa yang dilakukan Samsudin. Apalagi spesisenya termasuk hewan yang dilindungi. Ia mengaku bila dirinya mendongeng ke sekolah di level SD dan Paud selalu membawa tema tersebut.

“Jika ditanamkan sejak dini harapannya ketika mereka memasuki usia dewasa di dalam jiwa mereka sudah tertanam,” ungkapnya.

Jumlah badak Sumatra sekitar 50-60 ekor lagi, belum ada data pastinya hingga saat ini. Badak Sumatera sebagai salah satu hewan yang mendekati kepunahan.

“Di sekolah tempat mendongeng tentang kehidupan ulayat, tentang isu global warming dan climate change, isu energi terbarukan  dan isu penggunaan barang-barang yang ramah lingkungan,” tutup Martian. [Zefpron]