Sri HartatiOleh Sri Hartati SP MM*

Mari kita tetap berjuang meneruskan cita-cita tokoh emansipasi perempuan, Kartini yang dikenal sebagai tokoh sentral perjuangan kaum perempuan. Mari kita saling bergandeng tangan untuk membantu Kartini-kartini saat ini yang masih belum merasakan hasil dari perjuangan Kartini dengan tetap melihat dan mengingat kodratnya sebagai seorang Ibu.

Kartini masa kini punya tantangan yang jauh lebih besar. Tantangannya adalah meneruskan cita-cita Kartini agar kaum perempuan Indonesia bisa memiliki kesamaan hak dalam berbagai aspek. Namun sebagai perempuan ada kodrat yang harus tetap dipegang teguh.

Itulah sebabnya tugas Kartini masa kini tentu lebih berat. Harus bisa menyeimbangkan antara cita-cita dan kodrat.

Tentunya bangsa Indonesia sangat butuh Kartini baru dimasa-masa ini. Dengan banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Untuk mencapai itu, tentunya kita harus mengenal sosok Kartini dengan kepribadian dan keteladanannya yang bisa kita ambil sebagai panutan.

Pertama, Kartini adalah sosok yang merakyat. Sifat Kartini yang tidak senang disembah dan diagungkan selayaknya seorang bangsawan lainnya. Hatinya lekat kepada rakyat walaupun dia adalah seorang bangsawan tetapi ia tidak gila akan derajat itu. Bahkan Kartini akan merasa amat sedih jika ada seorang bangsawan yang menggunakan tingkat kebangsawanannya untuk kepentingan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kedua, Kartini merupakan sosok pengasih. Sifat kasih sayangnya ditujukan kepada anak-anak perempuan didikannya. Terbukti dengan ungkapannya kepada Ny Abendanon 8 Agustus 1903 yang menyebutkan, “Moga-moga saya diperbolehkan memangku anak-anak itu dan saya akan mengasihi anak-anak itu”.

Ketiga, menghormati orangtua. Walapun memiliki pemikiran sendiri, Kartini tetap menghormati kepustusan orangtuanya. Salah satu buktinya ia menuruti permintaan orangtuanya untuk tidak melanjutkan sekolah. Baginya bila menuruti kata hatinya, itu berarti merusak hati orangtuanya.

Keempat, sederhana dan rajin. Dengan pandangannya yang tidak memperdulikan status Kartini mudah bergaul dengan siapa saja dan tetap menjalani hidup sederhana walapun merupakan anak seorang bangsawan. Terbukti saat pernikahannya walapun menikah dengan sesama bangsawan, Kartini memilih tidak mengadakan pesta dan bahkan tidak memakai pakaian pengantin.

Baginya hidup dalam kesederhanaan, kehematan akan mencegah kesengsaraan dimasa mendatang. KArtini juga termasuk sosok yang rajin, walapun dia tidak bersekolah tetapi semangat belajarnya masih tinggi dengan membaca buku dan koran.

Kelima, selalu optimis dan melihat kedepan. Ketika orang memandang suatu cita-cita dengan segala keadaan dengan baik dan tidak berburuk sangka, tidak mudah lemah akan cita-citanya maka Kartini percaya cita-cita tersebut akan dapat tercapai. Beliau orang yang selalu mengagung-agungkan masa silamnya dan puas dengan pencapaiannya dulu, karena mereka yang mempunyai sifat seperti itu seakan puas dengan hanya membanggakan nenek moyang jaman dahulu.

Keenam, keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang penting bagi Kartini, namun kecerdasan berfikir dan kecerdasan budi harus sama-sama dimajukan. Bagi Kartini yang juga merupakan seorang pendidik, tugas pendidik belum usai jika hanya mencerdaskan fikiran saja, ia harus mendidik budi atau akhlak muridnya.

Sifat-sifat teladan Kartini sekarang ini memang sudah terkikis oleh jaman. Mungkin hanya segelintir orang khususnya perempuan yang masih memiliki sifat-sifat positif seperti Kartini pada jaman dulu. Bila ingin mengikuti keteladanan Kartini, mulailah dari diri kita sendiri.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. Semoga kita bisa mentauladani sifat-sifat pahlawan nasional pembuka perspektif rakyat bahwa Indonesia terjajah. Jadilah Kartini Indonesia yang tangguh bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

*Staf Humas dan Protokol Pemda Kabupaten Bengkulu Selatan