markosian-chechnya-npr01_custom-fe05b1ff61682e5c6be47ddc524e6944788d60fc-s40BENGKULU, PB – Islam membolehkan wanita menimbang sesuatu yang mendatangkan kebaikan (mashlahat) baginya, seperti dikisahkan tentang Ratu Saba yang mengajak kaumnya bermusyawarah mengenai Nabi Sulaiman (QS. An Naml 32-34). Hikmah dari kisah ini bahwa pertemuan keduanya bersifat jaiz (boleh) namun dengan batas-batas. Artinya, dalam hal kebaikan pun ada adab atau batasan yang harus dipatuhi.

Ia mengatakan bahwa landasan dan perbuatan baik tidak menjadi dasar utama dalam pergaulan antara laki-laki dan wanita. Adab keduanya justru diatur dan diterangkan untuk menjaga kehormatan keduanya. Baca juga: Bedah Buku; Maafkan Tuhan, Saya Pernah Pacaran.

“Kebolehan itu tidak berarti bahwa batas-batas keduanya menjadi lebur,” Kata Ustad Andik Sugio Basuki saat menyampaikan materi diacara bedah buku Maafkan Tuhan, Saya Pernah Pacaran, di aula Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Dehasen Bengkulu, Sabtu (2/4/2016).

Menahan pandangan dari kedua belah pihak, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur 30-31, merupakan adab agama dalam menjaga pandangan dan kehormatan kedua pihak, baik laki-laki dan wanita. Ia pun mengutip perkataan Khalifah Umar Bin Khatab, “Umar pernah mengatakan aku lebih baik berjalan dibelakang Singa dibanding dibelakang wanita”.

Hijab sebagai sarana menghindari pandangan mata-mata yang penuh nafsu. Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan syahwat/rangsangan. Sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Azhab :32. Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang QS. An-Nur 31. Hendaklah mencontoh wanita yang diidentifikasikan oleh Allah dengan firman-Nya, QS. Al-Qhashas : 25.

“Dalam gerak, jangan berjingkrak atau berlenggok-lenggok. Jangan bertabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kafir,” ungkap Ustad Andik.

Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang mencolok kecuali untuk dipakai dirumah. Jangan berduaan (laki-laki dan perempuan) tanpa disertai mahram. Banyak hadits shahih yang melarang hal ini seraya menyebutkan karena yang ketiga adalah setan.

“Bahkan Istri yang sendirian dirumah, boleh menolak tamu laki-laki jika hanya akan berduaan. Jika ada pesan sang istri bisa menjadi perantara kepada sang suami untuk menyampaikan pesan tersebut,” terangya.

Diakhir acara bedah buku tersebut, Robi Afrizan Saputra menyarankan bagi mereka yang sedang menjalin hubungan berpacaran untuk mempertimbangkan hubungan yang belum sesuai dengan adab pergaulan seorang muslim.

“Untukmu yang kini sedang pacaran, marilah pikirkan, marilah renungkan dan marilah kita sadarkan hati, diri dan jiwa ini untuk mengetahui apa sebenarnya makna pacaran itu, apa sejatinya manfaatnya. Secara bijak, marilah secara sadar kita bertanya pada hati dan diri, apakah hal itu maslahat atau malah mudharat? Jawablah dengan hati yang tulus, hati yang bersih, hati yang tidak terpengaruh oleh nafsu dan godaan. Semoga Allah mridhoi hidup kita,” tutup Robi. [Zefpron Saputra]