1551596DSC-3201780x390BENGKULU, PB – Jakarta bisa menjadi contoh penerapan sistem parkir elektronik untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu, Suimi Fales setelah melakukan study banding ke wilayah Jakarta.

“Setelah study banding ke DKI, jika menggunakan sistem eloktronik, kebocoran PAD yang terjadi bisa berkurang hingga 1000%,” gembor Suimi Fales saat ditemui disela kesibukannya, baru-baru ini.

Lanjutnya, untuk penempatan 1 titik alatnya hanya sebesar Rp 100 juta, namun dipastikan dalam kurun 1 tahun modal bisa kembali. Jika ingin menaikkan PAD dari parkir, ia menyarankan untuk membenahi sistemnya.

“DKI dulunya sama dengan kita, satu titik dulunya hanya Rp 4 juta sampai Rp 4,5 juta yang masuk, setelah dibuat dengan sistem elektronik pemasukan buat kas daerah menjadi Rp 45 juta,” ungkapnya.

Selain itu, penerapan sistem ini juga akan mengurangi konflik dengan Juri Parkir (Jukir) apabila lahan itu diambil alih oleh Pemda Kota. Jukir merasa kehilangan mata pencaharian padahal tidak demikian, karena jukir itu dibayar dua kali lipat dari gaji yang ia dapatkan sekarang. Para Jukir tetap bekerja, bertugas mengawasi dan menyusun kendaraan.

“Terkait target parkir yang tidak tercapai, dan ingin dinaikkan 10 %, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, yang menyelesaikan masalah itu dari hasil study banding adalah membenahi sistem pengelolaan parkir, menggunakan sistem elektronik,” terangnya.

Lebih lanjut Suimi mengatakan berapa gaji jukir sekarang, misalkan Rp 50 ribu per hari, kita bayar mereka Rp 100 ribu, maka Jukir pasti mau-mau saja.

“Terkait soal anggaran, Kota Bengkulu memiliki anggaran dan dipastikan mampu untuk membelinya. Fungsi jukir sebagai pengawas tentu tetap diberdayakan. Kita juga dapat memutus mata rantai premanisme yang ada di dalam sistem tersebut,” ungkapnya. [Zefpron]