Ilustrasi/Pemeriksaan kesehatan hewan
Ilustrasi/Pemeriksaan kesehatan hewan kurban

BENGKULU TENGAH, PB – Praktek Juru Sembelih Halal (Juliha) menyasar para pengurus masjid di Kabupaten Bengkulu Tengah setelah Rumah Potong Hewan (RPH) masih minim dijumpai. Selain itu, di daerah ini masih amat mudah ditemukan juru sembelih yang tak lain pengurus masjid.

“Tujuannya memang untuk memastikan hasil sembelih hewan yang beredar di pasaran halal dan aman dikonsumsi. RPH sudah berkembang di KOta Bengkulu, namun di Benteng saya belum tahu,” ujar H. M Syarkawi saat sosialiasi pengawasan keamanan produk hewan dan Juliha kepada Pedoman Bengkulu, Rabu (25/5), di Puncak Tahura Hotel, Pondok Kubang.

Menurut Syarkawi, masyarakat harus mewaspadai beredarnya beragam jenis daging hewan potong yang tidak sesuai syariat. Untuk itu masyarakat harus paham perbedaan tiap-tiap jenis daging yang akan dibeli. Daging Celeng (babi-red) banyak beredar di pasaran, demikian daging kuda, tikus dan lainnya banyak tersebar di tiap produk makanan, seperti bakso, dan makanan lain.

“Kami mewanti dan mengajak warga waspada agar terhindar dari daging konsumsi yang dilarang agama, dan aman untuk dikonsumsi. Namun bila ada temuan soal daging celeng bisa langsung dilaporkan ke kami,” kata Syarkawi.

Sementara itu, juliha di Benteng menurut Hj Selmi, Kabid Kesmavet Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, ditujukan untuk para pengurus masjid yang terbiasa memotong hewan sembelihan untuk kegiatan keagamaan di masyarakat. Tahun ini tambah dia, Juliha digalakkan terutama mendekati bulan puasa mendatang yang dipastikan banyak menyembelih hewan potong/kurban.

“Sasarannya memang pengurus masjid, rumah potong (hewan) belum lengkap, terutama dekat puasa nanti banyak (masyarakat) potong hewan maka kami mengantisipasi itu dengan menggelar sosialisasi pengawasan keamanan produk hewan,” terang Selmi.

Pada sosialiasi pengawasan ini keamanan produk hewan ini dihadiri pengurus masjid dan sejumlah pedagang bakso di Bengkulu Tengah. (Dedy Irawan)