Menkes Nila MoeloekJAKARTA, PB – Hukuman kebiri bisa diartikan menjadi dua tindakan, yakni berupa pemotongan atau berupa suntikan zak kimia atau dikenal dengan istilah kebiri kimia. Kebiri kimia adalah tindakan memasukkan bahan kimiawi antiandrogen, baik melalui pil atau suntikan ke dalam tubuh pelaku tindak kejatahan seksual dengan tujuan untuk memperlemah hormon testosterone.

Berkaitan dengan hal tersbeut, Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila Farid Moeleok, Sp.M(K) menyatakan Kementerian Kesehatan perlu menjelaskan side effect dari hukuman kebiri, berdasarkan masukan dari para pakar atau ahli andrology dan ahli kejiwaan.

“Tindakan mengganggu hormon seseorang dengan maksud mengurangi libido, apapun tindakan ini ada side effect-nya ini yang harus kita pertimbangkan. Kita tidak bisa terlalu emosional istilahnya barangkali demikian,” kata Menkes.

(Baca juga: Hukuman Kejahatan Seksual Harus Diberatkan)

Hal lain yang akan dikaji dalam penerapan hukuman kebiri ini adalah soal Hak Azazi Manusia (HAM). “Kita harus pertimbangkan dengan bijak, tidak boleh sampai melanggar HAM. Kami meminta untuk didengar dari sisi kesehatan dan kedokteran,” kata Nila.

Sementara itu, Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Eka Viora, Sp.KJ(K) menerangkan bahwa efek samping dari obat yang digunakan pada tindakan kebiri kimia akan mempengaruhi banyak sekali sistem tubuhnya.

“Diantaranya akan mempengaruhi fungsi hormon sekunder laki-lakinya akan jadi hilang. Dia akan jadi seperti perempuan. Kalau waria senang biasanya karena akan muncul sifat-sifat perempuannya, misalnya payudara bisa membesar, tapi tulang mudah keropos. Itu kan membunuh juga kan namanya” jelas dr. Eka Viora.

Menanggapi pertanyaan media bahwa hukuman kebiri bermanfaat untuk menakuti pelaku agar muncul efek jera, dr. Eka Viora menilai bahwa itu bukan hal yang tepat. Menurutnya sanksi pidana dan sanksi sosial cukup untuk memunculkan efek jera. Yang utama adalah pendampingan pada masa hukuman, agar pelaku menyadari kesalahannya, menyesali, dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

“Tidak perlu ditakut-takuti dengan cara itu, seumur hidup kan bisa. Kita akan damping dia,” tandasnya. [GP]