Wiji ThukulJAKARTA, PB – Tepat di hari lahir seniman Wiji Thukul, Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) melakukan Konferensi Nasional (Konfernas), di Jakarta, 27-28 Agustus 2016. Tema Konfernas di usia Jaker ke 23 tahun ini adalah Memperkuat Kebudayaan Nasional, Menangkan Tri Sakti.

“Kami melihat bahwa saat ini kebudayaan nasional masih sangat lemah sehingga kita sebagai bangsa seperti tidak memiliki jati diri yang jelas. Narasi kebangsaan seperti cinta tanah air beserta seni budayanya yang beranekaragam dan jiwa gotong royong, bahu membahu membangun bangsa yang adil dan makmur semakin terpinggirkan oleh narasi asing yang mementingkan diri sendiri dan kelompok,” kata Sekjend JAKER Suroso.

Oleh karena itu, lanjutnya, kami ingin mengajak kepada seluruh elemen bangsa terutama para pekerja seni dan budaya untuk bersama-sama memperkuat kebudayaan nasional kita. Dalam bahasa lain, mempertegas kembali apa yang menjadi budaya nasional Indonesia.

“Kemudian kita akan menggunakan kebudayaan nasional itu untuk memenangkan cita-cita Tri Sakti,” imbuhnya.

Suroso menambahkan sebenarnya Indonesia sudah memiliki kepribadian dalam budaya. Namun saat ini sepertinya budaya kita sudah tergerus oleh budaya luar yang begitu kuatnya masuk ke negeri kita sehingga kita seperti tidak memiliki akar budaya lagi.

“Inilah yang harus kita lakukan, kembali mempertegas jati diri kita, budaya kita, dan bersama-sama kita harus memperkuatnya agar kita mampu memenangkan pertarungan dengan budaya luar yang begitu massif masuk sampai ke pelosok desa,” ungkapnya.

Ia menambahkan konfernas ini akan merumuskan strategi dan taktik kebudayaan dalam membangun bangsa; bagaimana memperkuat kebudayaan nasional dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Agustus 1945.

“Misalnya melalui gerakan literasi dan pendidikan, termasuk workshop seni dan budaya,” sambung Roso.

Di bidang Organisasi mengemuka wacana untuk Merekomendasikan Wiji Thukul sebagai Ketua Umum dalam kongres mendatang; mendirikan Institute Wiji Thukul untuk pendidikan sosial dan kebudayaan dan terlibat aktif dalam pencarian Wiji Thukul.

“Termasuk mendesak Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mencari dan menjelaskan keberadaan Wiji Thukul yang hilang di sekitar peristiwa 1998,” tambahnya.

(Simak juga: Puisi-puisi Wiji Thukul)

Untuk diketahui, JAKER didirikan pada tahun 1993 oleh beberapa pekerja seni dan budaya, salah satunya oleh Wiji Thukul. Bahkan, ayah dari Fajar Merah itu menjadi Ketua Umum pertama organ kebudayaan berlambang bintang ini. [GP]