pgn-perluas-distribusi-gas-bumi-ke-blora-ROS-thumbJAKARTA, PB – Dalam sepekan terakhir harga gas dalam negeri terus merangkak naik. Harga gas industri saat ini mencapai USD 8 Million Metric British Thermal Unit (MMbtu). Harga tersebut jauh lebih mahal dibanding negara tetangga.

Singapura misalnya, harga pasaran gas hanya di kisaran USD 4 per MMbtu. Negara tetangga lainnya seperti Malaysia hanya menjual harga gas untuk industri sebesar USD 4,47 per MMbtu, Filipina USD 5,43 per MMbtu dan Vietnam USD 7,5 per MMbtu.

Besarnya selisih harga gas yang telah mencapai 2 kali lipat itu membuat kalang-kabut pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Pemerintah merasa bingung mengapa tarif gas dalam negeri jauh lebih mahal, padahal Indonesia adalah negara eksportir gas. Hal tersebut diakui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Luhut Binsar Panjaitan.

Ia mengungkapkan, tidak seharusnya Indonesia menjual harga gas lebih mahal dibanding negara yang di ekspornya. “Sekarang gini, gas di Singapura, Korea, Jepang, termasuk di China rata-rata USD 4. Padahal gas di China impor dari Tangguh (Blok Tangguh), lah kok bisa segitu? di kita mahal,” kata Luhut baru-baru ini.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato, kemarin mengungkapkan salah satu penyebab mahalnya harga gas di Indonesia adalah banyaknya calo yang memburu rente di bisnis gas bumi. Besarnya peran calo gas di dalam negeri menjadi faktor utama permainan harga pasar gas.

Pernyataan Airlangga ini didukung oleh mantan Ketua Tim Reformasi Migas, Faisal Basri. Dalam tulisan di blog pribadinya yang berjudul ‘Lezatnya Berburu Rente dari Bisnis Gas’, Faisal mengungkapkan ada sekitar 60 perusahaan trader atau calo gas di Indonesia, dan hampir semuanya tak punya infrastruktur. Perusahaan ini hanya bertindak sebagai calo pemburu rente saja tanpa modal.

Mereka mendapat alokasi gas, lalu menjualnya ke trader lain karena tak punya pipa untuk menyalurkan gas, dan begitu seterusnya hingga ke pembeli akhir. Trader ini membuat rantai pasokan gas menjadi panjang, harga gas di Indonesia menjadi tidak efisien.

“Salah satu akar masalah utama adalah bisnis gas dijadikan bancakan oleh para pemburu rente,” ujar Faisal dalam tulisannya, Kamis (2/9/2016).

Ia menungkapkan masih ada lebih dari 50 trader lainnya yang berburu rente di bisnis gas. Pada umumnya perusahaan dagang yang kebanyakan sekedar calo itu dimiliki oleh figur yang dekat dengan kekuasaan serta para pensiunan pejabat. Saya memiliki daftar komisaris dan direksi perusahaan trader itu.

Seperti dilansir detikfinace, Dia menambahkan, alangkah baiknya pemerintah menertibkan praktik bisnis gas yang amat tidak sehat sebelum mendirikan holding migas. “Kalau dipaksakan, sangat boleh jadi praktik pemburuan rente bakal melebar dan membesar. Perusahaan yang betul-betul sehat akan terseret menjadi obyek bancakan baru,” tutupnya. (Yn)