14248105_120300000094970834_1927399407_oBENGKULU, PB – Okto Brawijaya menerangkan jika dirinya tidak pernah ditangkap oleh aparat Pangdam Jaya dan Deninteldam Jaya, pada hari Jumat (02/09) lalu di Gedung SME Tower Pancoran Jakarta Selatan. Menurut dirinya pada saat itu, ia mendatangi Panglima Kodam untuk mengklarifikasi laporan terkait dugaan penipuan.

“Saya tidak benar ditangkap di Pomdam Jaya, buktinya saya masih disini. Sebenanya, pada minggu lalu, saya diundang untuk mengklarifikasi tentang mobil dinas Fortuner dan foto saya yang beredar yang memakai atribut TNI,” terangnya.

Informasi sebelumnya, jika dirinya diamankan pada saat HUT PATANI (Pandu Tani Indonesia) yang bertempatan di Gedung Unesco Jakarta. Dari versi Okto, pihak Pangdam tidak pernah menangkap dirinya, namun memenuhi klarfikasi laporan tersebut tanpa ada unsur penangkapan.

“Tidak betul, saya tidak di tangkap, saya menghadiri acara Pandu Tani Indonesia. Saya datang Jumat dikarenakan pada Sabtu mereka libur, saya meminta karena saya wakil panitia acara tersebut. Sehingga saya terpaksa datang dan meminta izin untuk memenuhi panggilan itu. Dari laporan tersebut, saya menggunakan atribut TNI untuk menipu,” jelasnya.

Namun ini tidak benar, lanjutnya, foto itu memang ada teapi untuk kepentingan pribadi saya. Saya diundang di Pangdam untuk klarifikasi, saya tidak ditahan dan tidak ada dilimpahkan ke Polda Metro. Sesudah klarfikasi selesai, tidak ada unsur terkait penipuan. Selain itu foto tersebut adalah dokumen pribadi saya, tidak berhak orang lain mengambil foto itu. Itu konsumsi pribadi, dan tidak benar untuk menipu,” tegasnya.

Terkait pemakaian mobil dinas fortuner milik anggota TNI, menurutnya mobil dinas itu dimiliki oleh rekanan dirinya yang berasal dari anggota TNI dengan jabatan Purnawirawan. Rekan nya tersebut adalah komisaris dalam perusahan yang ia miliki.

“Saya mempunyai perusahaan, didalam sana ada komisaris rekanan saya berasal anggota TNI Purnawirawan . Sehingga saya sering memakai ini, namun tidak menyalahgunakan mobil tersebut. Saya orang sipil, bagaimana saya ditangkap oleh TNI. Menurut saya itu tidak benar, makanya saya meluruskan disini,” tambahnya.

Sementara itu, Yuliswan, SH kuasa hukum Okto menerangkan pihaknya akan melapor balik terkait laporan dugaan klarifikasi atas penipuan dengan memakai atribut TNI tersebut. Selain itu dirinya berpendapat jika laporan dugaan penipuan ini, berasal dari klarfikasi pihak mantan Bupati Kepahiang Bando Amin C Kader.

“Saya terkejut melihat pemberitaan kemarin, secara kuasa hukum beliau. Untuk diketahui yang menyatakan laporan itu dari kuasa hukum Bando Amin bernama Karem, kita tidak terima ini. jika klien kami memakai atribut TNI untuk menipu orang, apakah dia tahu pada saat klien kami memakai atribut itu melakukan penipuan, itu tidak ada,” terang Okto.

Kalau pun dugaan yang berjalan saat ini terkait bahwa mereka mau menuju pemilihan Gubernur, ini masalahnya biaya politik, tambahnya, atas pernyataan itu kita tidak akan diam, maka kami akan laporkan ini ke Polda Bengkulu atau ke Mabes Polri khususnya kepada kuasa hukum Bando Amin.

Sebelumnya, Okto juga dilaporkan ke Polda Bengkulu oleh Bando Amin C Kader dengan nomor laporan polisi: LP-B/1137/XI/2015/ SIAGA SPKT II. Dalam laporan itu, Bando menyatakan bahwa Okto menawarkan perahu partai terhadap dirinya atas pencalonan sebagai Gubernur Bengkulu. Pada waktu itu, Okto meminta uang ditransfer sebesar Rp 5,65 miliar yang janjinya jika tak dapat partai uang dikembalikan. Namun akhirnya Bando tak dapat partai pengusung dan uang itu tak dikembalikan yang membuatnya merasa tertipu dan memperkarakannya ke Polda Bengkulu. (RU)