pgn-perluas-distribusi-gas-bumi-ke-blora-ROS-thumbJAKARTA, PB – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Bambang Haryo Soekartono mempertanyakan alasan kenapa harga energi listrik dan gas di Indonesia terlalu mahal bila dibandingkan dengan negara tetangga.

Menurutnya, masyarakat sebenarnya bisa mendapatkan harga listrik yang sangat murah. Listrik mahal itu karena harga energi primer yang dijual ke PLN tidak realistis. Contohnya, PLN Balikpapan menggunakan solar sebagai energi primer.

“PLN Balikpapan harus membeli solar Rp6.000 per liter. Sedangkan di pasaran harga energi minyak non subsidi hanya Rp4.900 per liter,” kata dia, menjelaskan temuannya.

Menyangkut harga gas, lanjutnya, harga internasional seperti di Singapura untuk sampai ke tangan pengguna hanya USD3,8 per MMBTU. Sementara di Malaysia sekitar USD3,8-3,9 per MMBTU. Padahal negara-negara jiran ini membelu dari Indonesia.

“Tapi, PLN beli gas yang ditetapkan oleh SKK Migas sendiri seharga USD7 per MMBTU atau bahkan lebih,” jelas Anggota Komisi VI ini.

Dengan demikian, ia minta agar harga-harga ini dikembalikan ke harga yang realistis. Ini penting pula untuk membantu pembangunan infrastruktur energi. Karena infrastruktur energi sangat dibutuhkan oleh jutaan usaha di Indonesia termasuk masyarakat.

“Harga elpiji dibandingkan harga LNG dan CNG empat kali lipat dari harga pasar. Ternyata, menggunakan elpiji jauh lebih mahal daripada CNG,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Liquified Natural Gas (LNG) berasal dari gas alam yang digunakan untuk industri dan BBG. Sementara Compressed Natural Gas (CNG) berasal dari gas alam untuk BBG.

Anggota dapil Jatim itu berharap, sistem perpipaan bisa masuk ke semua lini kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, harga energi primer yang dibutuhkan masyarakat lebih murah dan tidak perlu lagi subsidi.

“Mohon pemerintah bisa memperhatikan ini dan bisa mengusahakan, karena masyarakat sudah membayar pajak tanpa ngemplang. Pemerintah harus mengusahakan infrastruktur energi terutama gas dan minyak,” pungkasnya. [GP]