pltuJAKARTA, PB – Program listrik 35.000 MW yang saat ini sedang dikerjakan pemerintah dan bersama Independent power producer (IPP) didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Setidaknya ada 56,97% dari total pembangkit listrik yang dibangun merupakan PLTU.

Untuk mengurangi polusi yang timbul Pemerintah mendorong penggunaan teknologi efisiensi tinggi seperti Clean Coal Technology (CCT) untuk PLTU utamanya di system kelistrikan Sumatera. Memang CCT ini tidak sepenuhnya menghilangkan emisi menjadi nol atau mendekati nol, tetapi lebih bermakna bahwa emisi yang dihasilkan lebih sedikit.

Meskipun begitu, CCT dapat mengurangi emisi dari beberapa polutan dan limbah serta peningkatan energi yang dihasilkan dari tiap ton batubara. Dengan demikian maka teknologi CCT untuk PLTU saat ini lebih efisien dan ramah lingkungan.

Penerapan teknologi ramah lingkungan untuk PLTU itu sesuai dengan Paris Agreement pada Konvensi Para Pihak (Conferences of Parties-COP) UNFCCC ke-21 di Paris tahun 2015 lalu. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Jarman.

“Teknologi PLTU bersih melalui CCT merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan kenaikan suhu bumi yang tidak lebih dari 2 derajat,” ujarnya.

Dia menambahkan, kebutuhan batubara untuk PLTU saat ini mencapai 87,7 juta ton. Seiring dengan pembangunan program ketenagalistrikan 35.000 MW, kebutuhan batubara diperkirakan meningkat menjadi 166,2 juta ton pada tahun 2019.

Saat ini masyarakat dunia tidak terkecuali Indonesia mengurangi konsumsi energy yang bersumber dari fosil seperti minyak dan batubara. Semakin sulit dan sedikitnya cadangan energy berbasisi fosil dan dampak polutan yang dihasilkan pada akhirnya menyadarkan masyarakat dunia untuk mulai memanfaatkan energy terbarukan sebagai sumber energy yang lebih ramah lingkungan.

Pada COP-21 di Paris, lanjutnya, Presiden Joko Widodo telah mendeklarasikan komitmen Pemerintah Indonesia untuk ikut aktif menurunkan emisi CO2 (Gas Rumah Kaca-GRK) sebesar 29% di tahun 2030 dan melalui dokumen Intended Nationally Determined Contributions (INDCs).

“Indonesia mencantumkan kegiatan pembangunan PLTU Batubara dengan menggunakan teknologi efisiensi tinggi seperti Clean Coal Technology untuk mencapai 29% penurunan emisi GRK di tahun 2030,” jelasnya.

Untuk diketahui, pembangunan PLTU batubara juga direncanakan akan dibangun di Kota Bengkulu. Tepatnya di lahan milik PT Pelindo (Persero) yang berada di Kampung Melayu. Kendati masih dalam proses uji kelayakan (Amdal), proyek ini masih menuai pro dan kontra. [GP]