Kecapean, Puluhan Siswa SMKN 12 Surabaya Kesurupan Puluhan siswa SMKN 12 Surabaya kesurupan selama dua hari berturut-turut. Akibat kejadian kesurupan massal itu, para siswa di sekolah yang beralamat di Siwalankerto Permai dipulangkan lebih pagi yakni pukul 10.00 lebih pagi. Padahal, biasanya pulang pukul 14.00

REJANG LEBONG, PB – Peristiwa mistis terjadi di komplek sekolah SMPN 15 KOta Padang, Kecamatan Kota Padang baru-baru ini. Pasalnya, belasan siswa kelas VI SMPN 1 tersebut kesurupan. Bahkan peristiwa ini berlangsung dua hari berturut-turut.

Kejadian ini membuat warga serta dewan guru setempat panik dan terpaksa harus memulangkan siswa lainnya lebih cepat dari jam pelajaran semestinya. Hingga akhirnya, pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan pengajian di lokasi sekolah bertujuan agar peristiwa tersebut tak terulang lagi pada Sabtu (24/09).

Berdasarkan keterangan Kepala Sekolah SMPN 15 Kota Padang, Yeni JUlaiza mengatakan, jumlah siswa dan siswi yang mengalami kesurupan adalah 15 orang. Kesemuanya berasal dari kelas VI.

Mulanya, hanya satu orang siswi yang mengalami kesurupan yaitu bernama Mahlia. Mahlia mulai kesurupan setelah dirinya mengunjungi rumpun bambu yang berada di halaman belakang ruang kelas VI. Hingga akhirnya, siswa lain ikut tertular kesurupan dan berteriak sembari menangis secara massal.

“Kalau dari cerita warga setempat, lokasi rumpun bambu itu memang angker. Katanya bekas pembuangan mayat saat jaman penjajahan belanda dulu. Memang ada lubang di bawah rumpun bambu itu,” cerita Yeni.

Ditambahkan Yeni, selama dua hari tersebut terhitung sejak kamis dan jumat lalu, para siswa di pulangkan cepat. Khawatir akan menambah korban siswa dan siswi yang kesurupan.

“Saat kami tanya, siswa yang kesurupan meminta agar lokasi belakang kelas VI itu dibersihkan. Makanya, kami hari ini mengadakan pengajian dengan mengundang ustad serta warga sertempat,” ujar Yeni.

Sementara itu, Mahlia saat ditemui mengatakan, saat peristiwa terjadi dirinya memang bermain ke belakang sekolah berniat mencari lidi bambu.

“Saat itu sedang jam istirahat pelajaran. saya kebelakang mau cari lidi bambu. saat pulang ke dalam kelas saya sudah tidak sadar lagi. saya lupa apa yang terjadi. kalau cerita teman – teman saya berteriak – teriak terus sembari menangis kencang pak,” ujar Mahlia.

Panntauan wartawan, pengajian mulai dilaksanakan pukul 09.00 WIB di komplek sekolah yang di ikuti, guru, dewan komite, siswa, warga setempat serta ustad dan imam desa kota padang. (Ifan)