petani-facebook-1-1JAKARTA, PB – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat upah nominal harian buruh tani nasional pada Agustus 2016 naik sebesar 0,28 persen dibanding upah buruh tani Juli 2016, yaitu dari Rp 47.985,00 menjadi Rp 48.120,00 per hari atau naik sebesar Rp 135. Upah riil mengalami kenaikan  sebesar  0,22  persen.

Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Agustus 2016 naik 0,25 persen juga mengalami kenaikan dibanding upah Juli 2016, yaitu dari Rp 82.143,00 menjadi Rp 82.348,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar  0,27 persen).

Sebelumnya, Suryamin, Kepala BPS mengatakan bila kenaikan ini dapat memperkecil angka kemsikinan. Hal ini dilihat dari koefisien rasio gini ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia. Menurutnya, hal ini mempengaruhi penyempitan jurang kalangan bawah dan kalangan atas terutama dari sisi pengupahan buruh tani.

“Pada Maret lalu terjadi hal yang sama, saat itu kenaikan upah buruh tani harian meningkat 2,99 persen, dari Rp46.180 per hari pada Maret 2015 menjadi Rp 47.559 per hari pada Maret 2016. Ini penyumbang utama penyempitan jurang kelas atas dan bawah,” kata Suryamin, belum lama ini.

Sambungnya, kenaikan jumlah pekerja bebas dari sektor industri pertanian menjadi hal yang positif. Untuk sektor pertanian, peningkatan jumlah pekerja bebas mencapai 100 ribu pekerja, dari semula berjumlah 5,1 juta pada Februari 2015 menjadi 5,2 juta pada Februari 2016 lalu.

Selain itu, BPS melihat kontribusi pengeluaran sejumlah kelompok terhadap ketimpangan pengeluaran penduduk. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk 40 persen yang berada di kelas masyarakat berpenghasilan rendah meningkat dari Rp 371.336 pada Maret 2015 meningkat lagi menjadi Rp 423.969 pada Maret 2016 lalu.

“Kenaikan pengeluaran ini merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah, tidak lepas dari upaya pembangunan infrastruktur padat karya, bantuan sosial, dan perbaikan pendapatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan bawah,” ujar Suryamin.

Seperti dilansir CNN Indonesia, BPS menilai, pertumbuhan persentase penduduk di kawasan perkotaan juga memberi andil pada menurunan gini rasio ketimpangan pengeluaran penduduk. “Peningkatan komposisi penduduk daerah perkotaan mengindikasikan adanya peningkatan migrasi dari desa ke kota yang menyebabkan semakin tingginya upah yang diterima oleh buruh kasar di daerah perkotaan,” imbuhnya. (Yn)