ilustrasi-kolombusRaymond Samuel*

Pada 12 Oktober 1492, seorang perompak dari Eropa, Christopher Columbus, mendarat di benua Amerika. Peristiwa itu kemudian menjadi dongeng yang terus diceritakan hingga hari ini: Columbus adalah penemu benua Amerika.

Benarkah Columbus manusia pertama yang menginjakkan kaki di benua Amerika?

Jauh sebelum kedatangan Columbus, benua Amerika sudah dihuni banyak manusia. Penghuninya punya peradaban: bahasa, tradisi, kepercayaan, teknologi, struktur sosial dan lain-lain. Merekalah yang sebetulnya masyarakat asli benua Amerika.

Tetapi Columbus, yang keturunan Italia itu, menyebut masyarakat Amerika latin itu masih kanibal, tidak beradab. “Mereka jahat dan saya kira mereka berasal dari kepulauan Karibia, dan mereka memakan sesama mereka,” tulis Columbus di tahun 1493.

Karena itu, muncullah istilah “memberadabkan”. Jadi, kedatangan Kolombus di benua itu untuk “memberadabkan” penghuninya, sehingga bisa menjadi manusia beradab layaknya manusia Eropa.

Tetapi yang terjadi justru sangat tidak beradab. Pada pelayaran kedua Columbus ke benua Amerika, yang membawa serta 1200 laki-laki, yang terjadi adalah penjarahan, pembantaian dan pemerkosaan. Laki-laki dibantai, anak-anak diambil dari pelukan ibunya, sedangkan perempuan diperkosa atau jadi budak seksual.

Mark Derr dalam bukunya A Dogs History of America menceritakan Columbus memburu menggunakan anjing. Sebagian besar anjing-anjing itu didatangkan langsung dari Spanyol dan dilatih untuk bisa mencium bau orang-orang pribumi.

Faktanya, apa yang disebut “memberadabkan” masyarakat asli Amerika adalah sebuah kejahatan kemanusiaan: genosisa. Menurut ahli anthropologi Amerika Serikat, Henry Farmer Dobyns, dalam 130 tahun pertama Eropa menginjakkan kaki di benua Amerika, hampir 95 persen penduduk asli benua itu binasa.

Sedangkan menurut sejarawan AS, Howard Zinn, dalam bukunya A people’s History of the United States, demi mendapatkan emas sebanyak-banyaknya di Bahamas, Columbus memaksakan kerja-paksa yang berujung kematian penduduk asli.

“Dalam dua tahun, dengan pembunuhan, mutilasi dan bunuh diri, separuh dari 250.000 penduduk Haiti mati,” tulis Zinn.

Menurut sebuah laporan pada 1650, seluruh penduduk asli dari Arawaks dan keturunannya musnah di Bahamas. “Tidak satupun yang tersisa di pulau (Bahamas) itu,” kata Zinn.

Padahal, ada ribuan suku asli yang mendiami Amerika sebelum kedatangan Kolombus. Banyak diantara mereka yang sudah musnah, tak bersisa. Sekarang tinggal 826 suku asli yang masih tersisa. Itupun 100 diantaranya terancam hilang secara budaya.

Itu belum menghitung 60 juta orang Afrika yang dikirim ke benua Amerika sebagai budak. Dan hanya 12 persen dari mereka yang bisa sampai ke benua Amerika dalam keadaan hidup. Itulah peradaban Eropa yang sebenar-benarnya!

Ironisnya, pada tahun 1913,  tanggal 12 Oktober justru diperingati sebagai “hari Columbus” atau “Día de la Raza” (Day of the Race). Dongen Columbus menemukan benua Amerika diajarkan di sekolah-sekolah Amerika latin, termasuk di kalangan anak-anak masyarakat asli.

Tetapi masyarakat pribumi tidak menyerah. Mereka melakukan pemberontakan bersenjata, diantaranya pemberontakan suku India Apache (1676) dan pemberontakan Pueblo (1680). Perjuangan bangsa-bangsa Amerika latin menentang kolonialisme juga banyak menyertakan masyarakat asli. Satu pejuang anti-kolonial dari masyarakat asli yang terkenal adalah Juana Azurduy dari Bolivia.

“Hari perlawanan masyarakat asli”

Sejak 1990-an hingga sekarang, perjuangan masyarakat asli Amerika latin cukup menonjol. Mulai dari gerakan Zapatista (EZLN) di Meksiko, Gerakan untuk Sosialisme/MAS di Bolivia, Pachakutik dan CONAIE di Ekuador, COPINH di Honduras, dan lain-lain.

Yang cukup menonjol adalah MAS di Bolivia, yang berhasil mengantarkan Evo Morales menjadi Presiden keturunan pribumi pertama sejak Bolivia merdeka dari Spanyol tahun 1825.

Kemudian, sejak tahun 2002, Presiden Venezuela Hugo Chavez mulai mengubah Columbus Daypada 12 Oktober menjadi Hari Perlawanan Masyarakat Asli (Indigenous Resistance Day). Tidak hanya itu, semua patung Columbus di Venezuela diturunkan dan diganti dengan pahlawan masyarakat asli Amerika latin, seperti Guaicaipuro dan Juana Azurduy.

Langkah ini diikuti oleh pemerintahan Sandinista di Nikaragua pada tahun 2007. Juga oleh Bolivia, Argentina, Ekuador, El Salvador, Chile dan lain-lain. Di Argentina, patung Columbus yang berdiri gagah di tengah kota Buenos Aires digantikan oleh patung pejuang masyarakat asli Juana Azurduy.

Sekarang ini, jumlah masyarakat asli di Amerika latin tinggal 13 persen dari jumlah populasi–sekitar 40 juta orang. Mereka banyak menghuni Meksiko, Ekuador, Bolivia, Peru dan lain-lain.

Sekarang ini, kehidupan mereka terancam oleh ekspansi perusahaan transnasional yang merampas ruang hidup mereka. Tidak menghenrankan, masyarakat pribumi berada di garda depan untuk menentang neoliberalisme di amerika latin.

*Kontributor Berdikari Online