riri-damayantiJAKARTA, PB – Anggota Komite II DPD RI Riri Damayanti John Latief meminta kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia (RI) membangun industri di Bengkulu. Menurut dia, dalam banyak kesempatan, Provinsi Bengkulu selalu luput dalam sasaran pembangunan industri oleh Pemerintah Pusat.

“Selama ini pembangunan terlalu banyak fokus di wilayah timur¬†Indonesia. Padahal, Bengkulu tak kalah tertinggal dengan provinsi-provinsi lain di kawasan timur¬†Indonesia. Ketiadaan industri di Bengkulu membuat aliran uang keluar menjadi tinggi. Akhirnya kami hanya bisa mengandalkan produk mentah,” usul Riri untuk perumusan implementasi paket kebijakan ekonomi Kemenperin RI, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, di Bengkulu pada tahun 2014 silam tercatat hanya ada 37 industri besar atau sedang. Sedangkan industri kecil sebanyak 4 ribu industri. Selama kurun waktu 2010-2014 peranan sektor industri pengolahan dalam PDRB kurang dari 7 persen per tahun.

“Padahal Bengkulu memiliki banyak sumber daya potensial seperti kelapa sawit, karet, kopi dan banyak komoditas lainnya, baik yang ada di darat, lebih-lebih di laut. Tentu semua komoditas itu akan membangkitkan perekonomian Bengkulu bilamana Kementerian Perindustrian bersedia membantu Bengkulu untuk membangun industri pengolahannya, pabrik minyak goreng misalnya,” urainya.

Bila pembangunan pabrik minyak goreng terasa terlalu berat bagi anggaran Kementerian Perindustrian, lanjut Riri, mungkin langkah pembangunan di Bengkulu bisa dimulai dengan industri-industri kecil yang mampu memenuhi kebutuhan hidup rakyat sehari-hari terlebih dahulu seperti makanan, minuman, industri penunjang perumahan, pendidikan dan kesehatan.

“Mungkin tak menjadi soal bilamana pembangunan itu melibatkan investor dari luar, selama investor tersebut bersedia bagi untung yang adil dengan pemerintah,” tekannya.

Riri menambahkan, akan lebih menggembirakan lagi bilamana Kementerian Perindustrian dalam rencana kerjanya bersedia untuk memasukkan Bengkulu dalam koridor ekonomi di Sumatera.

“Di Samudera Hindia, letak tanah kelahiran ibu negara pertama Indonesia ini sangat strategis. Seluruh komoditas di Jambi, Sumatera Selatan, Lampung dan Sumatera Barat dapat keluar masuk ke kawasan Asia Barat, Eropa dan Afrika dengan efektif melalui laut Bengkulu,” tutup Riri. [RN]