Membangun Generasi Cinta Buku: Enyong Koe Dadi Siji Mbangun Desa Literasi

seniman-bengkulu-di-garasi-buku-4BUKU bukan hanya kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Buku adalah jendela dunia. Kitab suci semua agama berbentuk buku. Penemu hebat, pemikir terkenal, semua menuliskan pengalamannya di buku. Peradaban dibangun melalui buku. Membangun generasi yang mencintai buku, berarti membangun masa depan yang baik.

Far’ah Mushalamah, Kabupaten Cilacap

Gerimis menyiram Desa Bulupayung ketika semua mata tertuju ke Kawan Medi Muamar, seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) Daerah Istimewa Yogyakarta. Malam itu, Sabtu (12/11/2016), seniman kelahiran Bengkulu itu memukau penonton dengan sebuah monolog berjudul “Lorong Kehidupan”.

seniman-bengkulu-di-garasi-buku-1Penonton begitu menghayati bait demi bait yang ia ceritakan tentang “Lorong Kehidupan” itu. Antusiasme tak menurun sejak awal hingga akhir, meski malam telah larut dan suara kehidupan malam dari binatang melata semakin nyaring terdengar di salah satu desa terpencil di Kabupaten Cilacap itu.

Medi Muamar dibesarkan di Kerkap, Bengkulu Utara. Ia dulu lulusan SMP Negeri 3 Kerkap dan SMA Negeri 2 Model Arga Makmur. Haus akan ilmu, ia menimba pengetahuan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Provinsi yang melahirkan banyak seniman besar itu akhirnya membuat ia menyatakan bergabung di Jaker.

Medi Muamar tampil di Kabupaten Cilacap itu terjadi dalam acara panggung kesenian dengan tema “Enyong Koe Dadi Siji Mbangun Desa Literasi”. Diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Pahlawan tanggal 10 November 2016 yang lalu, acara itu dihelat oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Garasi Buku.

seniman-bengkulu-di-garasi-buku-3Selain Medi, penonton juga dihibur dengan musikalisasi puisi Wiji Thukul oleh kawan Rifki yang berjudul “Kebenaran Akan Terus Hidup”. Selain untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, acara ini diharapkan juga dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dengan kesenian.

Kemeriahan bertambah dengan adanya penampilan kreatifitas anak-anak yang ada di Desa Bulupayung. Diantaranya seni tari, seni musik dan teater. Kegiatan ini dikomandoi oleh Akbar Ay’som. Presiden Garasi Buku soudara Rudi Djunaedi sempat melakukan orasi budaya.

garasi-bukuGarasi Buku sendiri adalah TBM yang digagas oleh Latifun Lesanto pada tahun 2010, namun sempat berhenti. TBM ini mulai aktif kembali setelah Rudi Djunaedi didaulat sebagai Presiden Garasi Buku dan Kelik Priyanto sebagai Sekretaris pada awal awal tahun 2016. Berbagai kegiatan telah mereka gelar untuk mewarnai kehidupan masyarakat Desa Bulupayung.

Garasi Buku mempunyai visi menumbuhkan kegiatan literasi, membaca dan menulis dikalangan generasi muda di Desa Bulupayung dan berkeinginan menjadikan desa itu sebagai percontohan Desa Literasi pertama di Kabupaten Cilacap.

Adapun kegiatan rutin yang diadakan oleh anak-anak Garasi Buku diantaranya mengadakan kelas kelik-priyantoBahasa, kelas menulis, kelas musik, kelas sinematografi dan kelas fotografi yang semua kegiatan tidak memungut biaya dari peserta.

“Pendanaan kegiatan berasal dari donator-donatur atau iuran warga yang berempati dan mendukung gerakan literasi. Kita sudah mengagendakan untuk mengadakan camping sastra untuk menyedot animo anak-anak muda agar upaya menjadi Desa Bulupayung sebagai Desa Litrasi Pertama di Cilacap,” kata Sekretaris TBM Garasi Buku, Kelik Priyanto. [**]