Published On: Sab, Apr 29th, 2017

Kelintang, Penghasil Irama Indah dari Suku Serawai

Seni adalah sebuah karya manusia yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Perkembangan musik di Indonesia tiap tahun akan terus bermetamorfosis sesuai dengan tren masyarakat lokal maupun global.

Bengkulu adalah salah satu propinsi Indonesia yang terletak di Sumatera Bagian Selatan. Terdapat beberapa kebudayaan di propinsi Bengkulu yaitu kebudayaan Rejang, kebudayaan Pesisir, dan kebudayaan Bengkulu Selatan (Suku Serawai). Seni adalah salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat melayu Bengkulu termasuk Bengkulu Selatan.

Salah satunya yaitu seni musik. Musik adalah rangkaian nada yang menghasilkan irama yang indah. Musik biasanya digunakan untuk mengiringi acara-acara resmi atau non resmi seperti upacara dan tarian. Di Bengkulu Selatan terdapat banyak alat musik tradisional, salah satunya yaitu Kelintang.

Kelintang biasa disebut juga dengan kata kulintang. Kelintang/kulintang adalah salah satu alat kesenian tradisional dari daerah Bengkulu Selatan. Kelintang/kulintang banyak dimainkan oleh Suku Serawai. Suku Serawai merupakan suku yang menempati daerah Bengkulu Selatan. Kelintang/kulintang pertama kali ditemukan oleh orang-orang dari Suku Serawai dan sampai saat ini terus dikembangkan.

Kelintang/kulintang kayu ditemukan di Muara Dua Bengkulu selatan pada 28 September 1999. Kelintang/kulintang adalah alat musik pukul yang terbuat dari logam dan kayu. Kelintang/kulintang mirip dengan gemelan Jawa. Kelintang/kulintang merupakan alat musik yang dimainkan satu, dua orang dalam acara tertentu seperti acara bimbang atau resepsi pernikahan.

Kelintang/kulintang biasanya dimainkan bersama dengan gendang untuk mengiringi tari andun dalam acara bimbang adat. Keberadaan kelintang/kulintang sejak berkembangnya Suku Serawai. Untuk Suku Serawai kelintang/kulintang berjumlah enam buah sedangkan untuk Kecamatan Pino dengan alat main berjumlah empat buah.

Pemukul kelintang/kulintang berjumlah dua orang dan rebana satu orang. Rebana dan kelintang/kulintang digunakan orang untuk acara bimbang adat atau kesenian adat, untuk menghormati tamu (tari persembahan) dalam acara pernikahan maupun acara resmi.

Alat kelintang/kulintang biasanya dimainkan tiga pukulan satu orang pemukul, empat pukulan satu orang pemukul, dan enam pukulan dua orang pemukul. Dahulu sebelum berkembangnya pemikiran masyarakat, kelintang/kulintang terbuat dari kayu.

Kayu kelintang/kulintang terbuat dari kayu leban, tiga potong kayu leban. Cara membuatnya kayu dibelah dua. Untuk memainkannya cari nada yang ingin dimainkan yang berbeda dan ada tata cara tersendiri dalam memukul kelintang/kulintang yang harus dipelajari terlebih dahulu.

Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat Suku Serawai mulai berpikir untuk mengubah bahan pembuat kelintang supaya bisa menghasilkan nada yang lebih indah. Masyarakat mulai mengubah bahan yang awalnya terbuat dari tiga potong kayu leban sekarang diganti dengan bahan yang terbuat dari logam.

Kelintang/kulintang terdiri dari empat buah dengan satu orang pemukul. Kelintang/kulintang biasanya dimainkan untuk mengiringi tari andun dan acara adat lainnya. Dan akhirnya sampai saat ini kelintang/kulintang menggunakan alat-alat logam.

Kita bisa menemui kelintang/kulintang ini di rumah adat Bengkulu Selatan, di sebelah rumah dinas Bupati Bengkulu Selatan. Penyebaran kelintang/kulintang ini sudah banyak, kita bisa melihatnya di sekolah-sekolah. Biasanya sekolah-sekolah mempunyai kelintang/kulintang pribadi. Kelintang/kulintang bukan suatu alat musik yang langka, namun masih banyak dari kita yang belum mengenal kelintang/kulintang.

Setelah kita mengetahui alat musik yang ada di daerah kita ini. Begitu kayanya Bengkulu Selatan ini dengan budaya, wisata, kuliner dan seni. Di zaman modern yang semakin jauh meninggalkan nilai-nilai kebudayaan, karena kita semakin asyik menyerap kebudayaan asing dan melupakan kebudayaan kita ini.

Marilah kita sebagai generasi penerus mulai mengenal, mempelajari, menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di daerah kita. Mulai dari hal kecil seperti mengenalnya dan belajar memainkan alat-alat musik tradisional yang ada di daerah kita sendiri. Kerena seni musik tidak akan pernah padam oleh siapapun dengan kondisi apapun dan di manapun berada. [Merry Fitriana/Komunitas Ayo Menulis Bengkulu]

131 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

iklan khusus