Published On: Ming, Jun 18th, 2017

Bung Karno di Bengkulu, Pantai Panjang Menjadi Saksi Gelora Hati Pada Fatmawati

Foto Istimewa

Bengkulu merupakan kota pesisir yang oleh Inggris dikenal dengan nama Bencoolen. Bencoolen/coolen yang berasal dari bahasa Inggris ‘’cut land’’ berarti tanah patah, karena memang wilayah ini merupakan patahan gempa yang paling aktif di dunia.

Bengkulu bisa dikatakan memiliki pariwisata yang cukup komplit dalam bidang sejarah, alam, budaya, hingga kuliner. Yang paling masyhur dari semua tentang wisata di Bengkulu adalah Pantai Panjang.

Berpanjang hingga 7 kilometer, pantai ini pun pernah menjadi saksi gelora hati Bung Karno, Presiden RI pertama yang disegani dunia, kepada Fatmawati, sang penjahit sangsaka merah putih ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Baca juga: Bung Karno di Bengkulu, Dinamis, Dialektis dan Romantis

“Aku senang terhadap Fatmawati. Kuajari dia main bulutangkis. Ia berjalan-jalan denganku sepanjang
tepi pantai yang berpasir dan, sementara alunan ombak yang berbuih putih memukul-mukul kaki, kami
mempersoalkan kehidupan atau mempersoalkan Ketuhanan dan agama Islam,” kata Bung Karno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Edisi Revisi, Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo, Cetakan Ketiga, 2014.

Pesona indah pasir putih Pantai Panjang yang luas, ombak pantai yang indah dan pohon cemara yang menghiasi sepanjang pesisir pantai menjadikan diskusi antara Bung Karno dan Fatmawati semakin menarik.

“Mengapa orang Islam dibolehkan mempunyai isteri lebih dari satu?” tanya Fatmawati.

“Ditahun 650 Nabi Muhammad SAW mengembangkan Islam, kemudian mempertahankannya terhadap orang Arab dari suku Mekah, pun terhadap kaum keluarganya sendiri. Pedang disatu tangan dan Al Quran ditangan yang lain. Diantara laki-laki banyak terdapat korban,” jawab Bung Karno.

“Ini berarti banyak janda,” ujar Fatmawati pelahan-lahan.

“Pasti. Akan tetapi untuk menghindarkan hawa nafsu kehewanan atau perkelahian perempuan
diantara mereka sendiri, maka Nabi menerima wahyu dari Tuhan yang mengizinkan laki-laki mempunyai isteri sampai empat orang agar tercapai suasana yang tenang. Tapi di Bali orang menjalankan poligami yang tidak terbatas. Seorang pangeran yang sudah berumur 76 tahun belum lama ini mengawini isterinya yang ke-36. Umurnja 16,” kata Bung Karno lagi.

“Usia yang cocok untuk perkawinan,” kata Fatmawati mengemukakan pendapatnya.

Menurut Bung Karno, Pantai Panjang memiliki arus yang deras dan banyak hiu. Orang tidak diperkenankan berenang. Tetapi, ada sebuah sudut di Pantai Panjang yang dikelilingi oleh batu karang bersegitiga menyerupai kolam. Pada waktu Bung Karno dan Fatmawati mengarungi karang itu, Fatmawati kembali bertanya.

“Tidak adilkah hukum Islam terhadap perempuan?”

“Sebaliknya, ajaran Nabi menaikkan derajat perempuan. Sebelum itu kedudukan perempuan seperti
dalam neraka. Orangtua menguburkan anak-anak gadis hidup-hidup oleh karena dianggap tidak penting.
Laki-laki hanya menyerahkan mas-kawin kepada si bapak dan membeli anak gadisnya untuk dijadikan isteri.
Pada waktu sekarang perempuan tidak dibeli seperti membeli kambing. Perempuan sekarang menjadi
teman-hidup yang sama kedudukannya dalam perkawinan,” ujar Bung Karno menguraikan.

“Hukum perkawinan di Asia disesuaikan menurut keadaan setempat. Disini lebih banyak jumlah perempuan daripada laki-laki. Perempuan yang kelebihan ini berhak atas kehidupan perkawinan, karena itu Islam memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi isteri-isteri yang syah dan terhormat dalam
masyarakat. Akan tetapi di Tibet, dimana laki-laki lebih banyak daripada perempuan, mereka
mempraktekkan poliandri. Inilah bukti penyesuaian hukum agama dengan hukum masyarakat di Timur.”

“Bagaimana orang Barat mengatasinya? Seringkali orang Barat mempunjai nyai. Kerugiannya, anak-anak
yang mereka peroleh disingkirkan di masyarakat atau ditutup-tutup atau mendapat nama yang jelek seumur hidupnya. Dalam masyarakat kita anak dari isteri kedua dan selanjutnya mendapat kedudukan yang baik dan dihormati dalam masyarakat.”

Fatmawati terdiam lama sembil terus berjalan sepanjang pantai.

Baca juga: Bung Karno di Bengkulu, Laksana Dukun Sakti yang Baik Hati

Kemudian Fatmawati bertanya.

“Perlukah seorang Islam mendapat persetujuan dari isteri pertama sebelum mengawini isteri yang kedua?”

“Tidak wajib. Hal ini tidak disebut-sebut dalam Al Quran. Ini ditambahkan kemudian dalam Fiqh,”

“Hukum-hukum yang ditambah oleh manusia ditahun-tahun 700 dan 800-an yang, menurut pertimbangan akal, didasarkan pada Al Quran dan Hadist, yaitu qiyas.”

“Benar” jawab Bung Karno sembari tersenyum kepada Fatmawati, murid kecil yang ia nilai cerdas.

Lalu saat mereka berjalan-jalan kembali di suatu sore, sebuah dialog kecil terjadi. Saat itu Fatmawati mengawali.

“Jenis perempuan mana yang Bapak sukai?”

Bung Karno memandang Fatmawati yang saat itu berpakaian baju kurung merah, dan kuning yang diselubungkan dengan sopan.

“Saya menyukai perempuan dengan kasliannya. Bukan perempuan modern pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan. Saya lebih menyukai perempuan kolot yang setia menjaga suaminya dan senantiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai perempuan Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring.”

“Saya setuju,” Fatmawati membisikkan sembari mengintip kemalu-maluan pada Bung Karno melalui bulu-mata yang merebah.

“Dan saya menyukai perempuan yang merasa berbahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-
anak.”

“Saja juga,” kata Fatmawati.

Minggu berganti bulan dan bulan pun silih berganti, perasaan coba-coba dalam hati Bung Karno kepada Fatmawati bersemi menjadi kasih.

Baca juga: Bung Karno di Bengkulu, Guru Muhammadiyah yang Bersahaja

Pantai Panjang juga menjadi saksi ketika pada tahun 1941 Bung Karno menemani Ratna Djuami dan Asmara Hadi, anak angkat dan pengikut lama Bung Karno yang menjadi tunangannya, sengaja datang ke Bengkulu untuk membahas masalah rumah tangga Bung Karno.

Bung Karno membujuk mereka untuk mengizinkan Bung Karno, yang saat itu merupakan suami Inggit Garnasih, untuk menikah lagi. Permintaan Bung Karno itu ditolak. Menurut mereka, pernikahan itu akan menghancurkan karirnya sebagai pemimpin besar rakyat Indonesia mencapai Indonesia merdeka.

“Kalaupun aku mengawini Fatmawati, aku masih tetap mencintaimu. Gelombang-gelombang yang berbuih putih ini akan mendjadi saksi,” kata Bung Karno kepada Ratna Djuami.

Pantai Panjang terletak tak jauh dari kemudian Bung Karno di Anggut Atas. Sebuah sepeda ketika Bung Karno membonceng Fatmawati masih terpajang di kediaman itu, tersimpan dalam lemari kaca dan tampak masih bisa digunakan.

Pantai Panjang sendiri berjejer dengan Pantai Teluk Sepang, Pantai Bajak, Pantai Zakat, Tapak Padri dan masih banyak pantai-pantai indah lainnya di Kaur, Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, hingga Mukomuko.

Semuanya menyajikan pasir putih, kesejukan, serta deru ombak Samudera Hindia yang cukup besar untuk berselancar. [Ahmad Runako]

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>