Published On: Sen, Jun 19th, 2017

Memaknai Rezeki Kehidupan

Oleh :Nugroho Tri Putra*

Salah satu problematika kehidupan di antaranya adalah cara memaknai rezeki.  Hal ini yang sering menyebabkan manusia lupa diri, lupa hakikat hidupnya. Materi masih dianggap satu-satunya rezeki dalam kehidupan. Padahal, Allah menurunkan banyak rezeki bagi umatNya. Mulai dari kesempatan menghirup udara setiap hari, melihat indahnya isi dunia dan ciptaanNya, dan lain sebagainya.

Penafsiran keliru manusia adalah ketika rezeki kehidupan hanya terbatas oleh materi yang diperoleh di dunia. Karena itu, dalam pandangannya, dunia adalah segalanya sumber kebahagiaan. Padahal, kecintaan akan dunia adalah pangkal dari segala kesalahan dan kesengsaraan.

Ulama mengatakan, barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci oleh Allah, berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan murka dari Allah.

Ini peringatan bahwa sesungguhnya dunia dan isinya bukanlah satu-satunya tujuan, apalagi mengkategorikan banyaknya jumlah materi sebagi tolok ukur rezeki di dalam kehidupan. Materi memang bisa membawa kebahagiaan di dunia dan hati pemiliknya. Tetapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari nanti, bisa saja dari berlimpahan materi itu, seorang lelaki akan diuji dengan wanita, dengan perselingkuhan, dengan cinta dan kasih sayang yang sejatinya bukanlah hak miliknya. Uangnya tak lagi dinafkahkan ke istri dan anak-anak, tetapi dinafkahkan untuk maksiat. Berfoya-foya di atas keluarga yang menderita.

Begitu juga dengan perempuan, dengan semua keberlimpahan hartanya, bisa saja akan diuji dengan keborosan, keterlenaan duniawi, lupa anak dan suami, hingga lupa orangtua. Gemerlap materi rentan membawa perempuan berselingkuh, meski tak selamanya secara fisik, tapi hati dan pikiran berselingkuh dan matanya dibutakan oleh dunia. Memendam kasih sayang dan memikirkan yang bukan mahrom, sehingga membuat keluarga terbengkalai. Keluarga terlupakan. Tak lagi paripurna menjaga bunga-bunga keharmonisan keluarga, tak lagi memahami hakikat berumahtangga.

Manusia yang terlalu berambisi dalam mencintai dunia tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat. Dituliskan dalam Al Quran Surat Hud (15-16) “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Tetapi di akhirat tidak ada lagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan.”

Begitu bahayanya efek dari mengejar cinta dunia. Menyebabkan manusia memprioritaskan materi tapi lalai akan akhirat. Cinta dunia akan melengahkan manusia terhadap pencipta-Nya. Akan menggerogoti sendi-sendi agama.

Alangkah indahnya jika setiap manusia dapat memaknai rezeki secara bijaksana. Meyakini setiap apa yang diberikan-Nya merupakan rezeki yang terbaik. Jika bukan menurut umat manusia, pasti menurut-Nya.

Lalu, bagaimana cara manusia untuk memaknai dan mensyukuri rezeki kehidupan ini? Seketika saya ingat lirik lagu Suara Langit ciptaan Helmi Hasan dan Derry Sulaiman, “…Dapatkan Allah, engkau akan mendapatkan segalanya. Bilamana engkau kehilangan Allah, maka engkau akan kehilangan segalanya,”. Itulah jawabannya. Wallahua’lam Bish Sawab.

*Penulis ; Alumnus Program Beasiswa S2 Balitbang SDM Kementerian Kominfo RI. Saat ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Kota Bengkulu.

4 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Like

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>