BENGKULU, PB – Pemerintah Kota Bengkulu menggelar sosialisasi pelayanan publik bagi penyelenggara pelayanan publik di lingkungan Pemkot Bengkulu di Hotel Bumi Endah, Rabu (26/7/2017).

Sosialisasi ini bermaksud meningkatkan pelayanan publik Pemkot Bengkulu agar lebih maksimal. Karena menurut hasil survei Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (KemenPAN-RB) masih menempatkan Pemkot Bengkulu dalam zona merah pelayanan publik dengan angka 38,70 poin.

Sekretaris Pemkot Bengkulu, Marjon, menegaskan akan mengevaluasi sejumlah OPD yang kerjanya tidak maksimal karena tak memahami Tugas, Pokok dan Fungsi (Tupoksi) saat bertugas melayani warga kota.

“Sumber kekurangan kita karena tidak memahami Tupoksi, kalah sama dengan tukang sate yang mempromosikan produk dan memberi pelayanan baik pada pelanggannya,” kata Sesda.

Selanjutnya, Sesda mengingatkan semua ASN bekerja profesional saat menjadi pelayan publik. Menjelang Pilwakot 2018, ia menegaskan seluruh ASN agar tak terpengaruh dengan isu-isu politik yang tengah berkembang.

“Kita pelayanan masyarakat, bukan untuk dilayani masyarakat, sudah sampai mana yang sudah kita lakukan? Kita hanyut dengan isu-isu politik,” ujarnya.

Terpisah, Walikota Bengkulu, Helmi Hasan mengingatkan ASN dan pejabat Pemkot tentang kewajiban melayani kebutuhan warga.

“Ini memang penting, hari ini kita lakukan sosialisasi terhadap pelayan publik tentang bagaimana melayani publik,” ujar politisi PAN ini.

“Pertama, ingat kita ini diberikan jabatan oleh Allah, fasilitasnya semua dari uang rakyat, baju dari uang rakyat, nasi dari uang rakyat, mobil dinas dibayari rakyat, perjalanan dinas dibayari rakyat dan membayar sekolah anak dibayari rakyat, maka ketika rakyat membutuhkan pelayanan sebagai pejabat maka layanilah dengan sungguh-sungguh dan layanilah dengan hati, jangan sampai mereka kecewa, layani semampu kita,” sambung Walikota.

Dijelaskan Walikota, soal pelayanan publik tidak melulu terkait dengan pembangunan fisik saja, aspek pelayanan publik juga mestinya menjadi perhatian Pemkot.

“Kedua, pelayanan publik diukur buka hanya soal pembangunan fisiknya saja seperti gedung dan kendaraannya. Tapi bagaimana pelayanan masyarakat juga terpuaskan,” tandasnya.

Sebagai contoh, Walikota mengatakan, pelayanan di RSUD Kota harus melayani warga dengan hati. Tak boleh rumah sakit bersikap kasar dan tak ramah pada pasien miskin. Sebaliknya, RSUD Kota harus mengutamakan pasien miskin karena mereka lebih butuh perhatian.

“Jika dia orang miskin itu lebih prioritas untuk dilayani dengan senyuman. Orang sakit dan miskin sangat sensitif dan lebih butuh perhatian. Tapi, alhamdullah RSUD kota setiap Jumat memberikan makanan gratis dan jika pasien sudah sembut diberikan pelayanan gratis medicure, creambat dan sebagainya,” tandas Walikota. [Media Center Kominfo Kota Bengkulu]