Published On: Jum, Agu 11th, 2017

Sekujang, Halloween ala Serawai

Bila di Amerika dan beberapa Negara Eropa ada perayaan Halloween, Maka di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu ada perayaan Sekujang.

Sekujang merupakan tradisi masyarakat Serawai yang dilakukan setiap tahun pada malam Rayo Pertamo (Lebaran Pertama).

Tradisi Sekujang dilakukan sebagai upaya mendo’akan Jemo Putus. Jemo Putus adalah Orang yang meninggal tanpa memiliki keturunan saat ini.

Termasuk ibu yang meninggal saat melahirkan anak pertama, waria, orang yang mati dalam keadaan membujang, anak-anak yang meninggal, bahkan orang yang mati tanpa diketahui keberadaannya dan tidak memiliki kubur (misalnya mati hanyut, hilang di tengah hutan, di laut, jatuh kejurang dan tidak ditemukan).

Sekujang sendiri sebenarnya merujuk pada arwah-arwah yang tidak mendapat doa dari keturunan karena tidak diziarahi kuburnya, dalam kepercayaan masyarakat Serawai.

Roh atau arwah mereka diyakini akan kembali kekampung pada saat Lebaran Kedua. Roh-roh ini jika tidak mendapat doa dipercaya akan mencegah melekatnya bunga buah-buahan (mencegah proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan) seperti durian, manggis, petai, rambutan dan lain-lain. Bunga-bunga itu akan gugur dan tidak ada buah yang bisa dipanen.

Tradisi ini merupakan wujud doa masyarakat agar arwah-arwah tersebut tenang dan tidak mengganggu tanaman mereka.

Layaknya Festival Halloween, Para peserta tradisi Sekujang merupakan orang-orang yang berbalut kostum tertentu yang disebut Sekura. Para Sekura ini merupakan lambang arwah Sekujang. Pada mulanya kostum Sekura hanya terbuat dari ijuk untuk arwah pak Pandir dan Karisiek (pelepah pisang kering) untukistrinya. Sekura menggunakan topeng yang disebut Sekura Dayi yang terbuat dari Upin Pinang atau kayu.

Pada saat ini, sejalan dengan perkembangannya, makna jemo putus, maka jumlah dan jenis Sekura ikut berkembang, berbentuk Ibu hamil, pocong anak-anak dan waria.

Para sekura ini akan berkeliling kampong untuk meminta kue ke rumah-rumah penduduk. Sebelum berkeliling kampong, Tetuo Sekujang akan meminta izin kepada Puyang Mulo Jadi untuk melepas para Sekura. Lalu untuk menghindarkan bahaya, digunakan air tepung setawar sebagai pelindung mereka dari rasa gerah, gatal karena ijuk, dan bahaya tersulut api.

Setelah itu barulah mereka dilepas dengan terlebih dahulu melakukan tari Nelas.

Para Sekura akan menyanyikan Ratapan Sekujang sepanjang perjalanan mereka. Ratapan Sekujang berupa lima hingga tujuh bait pantun yang bergantung dengan respon tuan rumah. Sebagai balasan kue yang diberikan, tuan rumah dapat meminta Sekura untuk melakukan sesuatu, seperti bernyanyi, menari, berpantun, bersilat atau minta didoakan keselamatan dan kesembuhan. Kue-kue yang terkumpul dibawa ke Masjid untuk didoakan Imam atau perangakat desa.

Sekujang, sebuah tradisi unik dan perlu dilestarikan. [Elvi Ansori/Sarwo Ferdi Wibowo/Komunitas Ayo Menulis Bengkulu]

35 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Like

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>