JAKARTA, PB – Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan yang sangat serius di Indonesia.

“Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai saat kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode yang sangat penting dalam pencegahan stunting,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK Sigit Priohutomo, Kamis (28/9/2017).

Selanjutnya, Sigit juga menjelaskan masih tingginya permasalahan stunting di Indonesia disebabkan oleh buruknya asupan gizi saat anak masih ada di dalam kandungan, baru lahir, hingga anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan masalah serius pada anak terutama kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki.

Sigit juga menyoroti prevalensi stunting di Indonesia yang masih mencapai 37,2 persen. Menurut Sigit, prevalensi ini masih jauh dari ambang batas yang diizinkan di setiap negara yaitu 20 persen. Secara rinci, Sigit juga menjelaskan terdapat 15 provinsi yang memiliki prevalensi lebih dari 40 persen dan hanya lima provinsi yang memiliki prevalensi kurang dari 30 persen. Tidak ada provinsi yang memiliki prevalensi dibawah 20 persen.

Tingginya angka prevalensi stunting juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya angka asupan gizi pada 1000 HPK. Terkait hal ini, Sigit menekankan pentingnya pendekatan multisektor untuk menyosialisasikan perbaikan pangan dan gizi. Terakhir, Sigit kembali menegaskan komitmen Kemenko PMK untuk terus menyukeseskan program nasional kesehatan masyarakat dan gizi. [**]