Medali pertama yang diperoleh Indonesia dalam keikutsertaanya di Olimpiade adalah medali dari olahraga panahan. Medali itu mampu diraih setelah tujuh kali sebagai peserta Olimpiade tanpa medali.

Ya, medali perak dari Panahan Beregu Putri pada Olimpiade Seoul, Korea Selatan 1988. Medali perak tersebut diraih oleh tiga atlet putri dari cabang olahraga panahan nomor beregu, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani.

Mulai saat itu, Indonesia selalu membawa pulang medali dalam setiap partisipasi di Olimpiade. Dan sampai saat ini panahan selalu menjadi olahraga pendulang medali bagi kontingen Indonesia, selain bulu tangkis.

Dan baru-baru ini di SEA Games Kuala Lumpur, Srikandi-srikandi kita mampu mendulang tiga emas.

Olahraga panahan memang sudah menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia. Namun untuk Bengkulu tampaknya belum dioptimalkan. Keberadaan Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) dan kepedulian pemerintah yang sangat kurang dalam bidang Olahraga.

“Wajar saja banyak remaja atau atlit-atlit muda yang potensial lebih memilih pindah ke provinsi lain. Walau kadang kita dengan menghilangkan rasa malu akan gembar-gembor bahwa atlit itu adalah putri-putra Bengkulu. Padahal mereka digembleng, dibina, diapresiasi oleh provinsi lain. Miris,” kata pimpinan Komunitas Panahan Tradisional Bengkulu, Elvi Ansori, Senin (11/9/2017).

Sekitar setahun ini. lanjutnya, geliat olahraga panahan di Bengkulu makin marak. Dengan bermunculannya komunitas-komunitas panahan. Komunitas-komunitas itu secara rutin berlatih. Dari komunitas-komunitas itu terlihat beberapa talenta yang cukup bagus dari remaja atau pemuda yang ikut berlatih.

“Besar harapan PERPANI Bengkulu dapat menggandeng secara serius demi terbentuknya atlit-atlit panahan yang handal dan mampu bersaing dengan atlit panahan dari provinsi lain,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, komunitas atau grup panahan yang aktif di antaranya Komunitas panahan yang ada di PLN Sukamerindu, Komunitas Panahan Al-Hawariy Archery Club di Curup dengan pimpinan Mashuri Yanto dan Komunitas panahan Pesantren Al-Fida.

Pada saat ini, tambah Elvi, komunitas-komunitas itu baru dalam tahap pengenalan dan memasyarakatkan olahraga panahan karena untuk tahap prestasi belum ada jalan, oleh sebab PERPANI Bengkulu sendiri kurang jelas.

“Semoga ke depan PERPANI Bengkulu dapat mengadakan pembinaan dan merangkul komunitas-komunitas panahan dan memberikan wadah serta ada kompetisi serta turnamen sebagai ajang pencarian bakat dan talenta atlit hingga ada atlit panahan di Bengkulu yang mampu berbicara di tingkat nasional, dibina dan dilatih di Bengkulu, diberi perhatian dan dukungan, maka kita akan bangga mengakui itu sebagai putri-putra dan atlit Bengkulu,” tutupnya. [**]