BENGKULU, PB – Pemerintah Kota Bengkulu memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXIV pada Rabu (6/9/2017) pagi. Bertempat dilapangan sepakbola Pagar Dewa sejumlah kegiatan digelar untuk memeriahkan seremoni ini.

Tampak hadir Sejumlah Pejabat Kota Bengkulu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Tim Penggerak PKK Kota Bengkulu, Tokoh Masyarakat dan masyarakat umum. Sejumlah pesan moral disampaikan oleh pemangku kepentingan.

Asisten II Setkot Bengkulu Walin dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Harganas bisa dijadikan momentum kesadaran bahwa program Revolusi Mental dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.

Dalam pembentukan mental generasi mendatang, keluarga merupakan pranata sosial yang membentuk karakter individu sejak dini.

“Setiap anggota keluarga mempunyai masing-masing peran dalam membentuk karakter dirumah,” katanya.

Pembangunan adalah membangun manusia dari keluarga. Pembangunan kualitas individu adalah prioritas bagi keluarga untuk mempersiapkan generasinya di masa yang akan datang.

“Orang tua harus bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya,” terangnya.

Proses ini dapat berpola dalam bentuk pendidikan, pengasuhan, pembiasaan dan keteladanan.

“Satukan hati setiap anggota keluarga untuk membangun karakter yang kuat dan berketahanan,” tandasnya.

Salah satu pengurus TP PKK kota Bengkulu Ny. Suryadharma menyampaikan bahwa besarnya peran ibu dalam membentuk karakter anak dalam keluarga.

“Ibu adalah orang yang pertama kali menjadi guru bagi anaknya,” ujar perempuan yang juga didaulat sebagai Ketua Pelaksana Harganas tingkat Kota ini.

Cukup dua anak saja menjadi semboyan keluarga berencana saat ini salah satunya didasari pemikiran bahwa dengan sedikitnya jumlah anggota keluarga, ibu bisa memberikan perhatian yang lebih banyak kepada anak-anaknya.

“Curahan perhatian orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak dan pembentukan karakternya di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Bengkulu Busmar Edisyaf menyoroti fenomena bonus Demografi di Indonesia. Era ini sudah dimulai pada periode tahun 2012 hingga 2045.

Kondisi ini jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) jauh lebih besar dari penduduk yang tidak produktif (0-14 tahun dan diatas 65 tahun).

“Saat ini kondisinya sudah mencapai 47 persen, artinya setiap 100 orang usia produktif terdapat 47 yang menjadi tanggungan atau yang tidak produktif,” paparnya.

Permasalah pembangunan sumber daya dengan bonus demografi yang berlimpah ini harus bisa dimanfaatkan secara optimal. Salah satu pembentukan sumber daya tersebut yakni melalui pendidikan keluarga.

“Membentuk mental, karakter, pola pikir dan daya tahan akan memberi bekal kualitas kepada generasi muda mendatang,” demikian Busran.

Disela-sela kegiatan tersebut juga pihak penyelenggara memberikan apresiasi kepada sejumlah siswa dan siswi dan kelompok masyarakat yang beperan aktif dalam berkampanye Genre (Generasi Berencana).

Para siswa dan siswi ini diangkat menjadi duta genre melalui jalur pendidikan. Sedangkan dua orang masyarakat umum yakni Herawati dari PPKBD Muara Dua dan Asna Tanjung dari PPKBD Pagar Dewa, kedua wanita ini dinilai beperan aktif melakukan penyuluhan keluarga berencana dilingkungan sekitar. [Media Center Kominfo Kota Bengkulu]