Published On: Sab, Sep 23rd, 2017

Tiongkok Bangun Tembok Besar Kebudayaan

Pemerintah Tiongkok merekrut lebih dari 20 ribu relawan, programmer, dan tenaga ahli untuk mengembangkan proyek ensikplopedia dalam jaringan (online). Proyek ini disebut-sebut sebagai tandingan Wikipedia. Salah satu pejabat tinggi Tiongkok menjulukinya sebagai “Tembok Besar Kebudayaan.”

Sebagaimana dikutip dari laman vice.com, ensiklopedia daring didanai pemerintah itu ditargetkan mulai bisa diakses publik pada 2018. Selain programmer dan relawan, puluhan ribu akademisi dari berbagai universitas dan lembaga penelitian berbagai negara turut direkrut. Para dosen dan peneliti itu mewakili lebih dari 100 bidang studi, serta diminta menyumbangkan artikel sesuai keilmuan masing-masing. Dalam tahap awal, ensiklopedia tersebut bakal memiliki lebih dari 300 ribu entri topik bahasan, masing-masing topik akan dilengkapi informasi minimal 1.000 kata.

“Yang kami susun saat ini bukan lagi buku, melainkan Tembok Besar Kebudayaan,” kata Yang Muzhi, Kepala Proyek Pengembangan Ensiklopedia Daring Pemerintah Tiongkok.

Muzhi juga tercatat sebagai Kepala Ikatan Penerbit Tiongkok. Penyusunan ensiklopedia yang ambisius itu, menurut Muzhi, didasarkan pada tekanan komunitas internasional. Posisi tawar Tiongkok dalam bidang politik maupun militer di percaturan global semakin membesar.

“Sehingga kami berniat ikut berkontribusi memimpin pencerahan bagi masyarakat global,” ungkapnya.

Beijing satu dekade terakhir memblokir akses warganya terhadap Wikipedia, ensiklopedia daring terbesar di seluruh dunia. Perusahaan penyedia Internet asal Tiongkok, misalnya Baidu atau Qihoo 360 menyediakan Wikipedia tiruan mereka. Namun kualitas serta skala informasi yang disimpan jauh di bawah Wikipedia.

Tentu saja, kepentingan Beijing mendominasi arus informasi global menjadi salah satu tujuan pembuatan situs tandingan Wikipedia tersebut. Lewat proyek IT ini, Tiongkok ingin memamerkan kemajuan teknologi mereka, mempromosikan warisan budaya negaranya, meningkatkan pengaruh politik, serta memperkuat prinsip sosialisme yang menjadi dasar negara.

Muzhi menyatakan target mereka bahkan bukan sekadar menyaingi Wikipedia.

“Kami sekarang memiliki tim penulis terbaik dan terbesar di seluruh dunia. Tujuan kami bukan sekadar mengejar, melainkan mengambil alih status terbaik,” tegasnya.

Seandainya tidak ditulis dalam Bahasa Inggris pun, Ensiklopedia Tiongkok ini otomatis berpeluang meraih banyak pembaca di Internet. Pasalnya pengguna Internet di Negeri Tirai Bambu itu mencapai 720 juta orang, populasi daring terbesar sejagat. Selain itu, Tiongkok sejak lama menerapkan sensor Internet ketat, membuat rakyat negaranya tak punya pilihan kecuali mengakses situs-situs informasi yang sudah diberi lampu hijau oleh pemerintah.

Presiden Xi Jinping berulang kali menyerukan seluruh negara bekerja sama mencari solusi agar Internet bisa diatur bersama secara adil. Melihat pilihan kebijakan yang dibuat Partai Komunis Tiongkok mengatur informasi bagi warga sipil, tampaknya jalan pembatasan itulah yang diinginkan Tiongkok agar diadopsi banyak negara lain.

Tiongkok dikenal mengoperasikan sistem Firewall kesohor, berjuluk ‘Tembok Besar Pemblokiran’. Perangkat milik pemerintah itu adalah salah satu mekanisme sensor terbaik di seluruh dunia, yang bisa menelisik kata kunci dari situs atau blog pribadi sekalipun, yang mengandung kata-kata anti pemerintah.

Sejauh ini, kalangan akademisi global masih belum bisa menebak seperti apa kualitas ensiklopedia yang dikembangkan pemerintah Tiongkok. Tidak jelas juga apakah pengaruh Tembok Besar Kebudayaan ini akan mampu mendekati status Wikipedia sebagai sumber informasi baru terhadap bermacam topik pengetahuan umum. Satu akademisi yang telah diundang berpartisipasi dalam proyek tersebut, menyatakan masa depan ensiklopedia itu cerah. Hanya saja butuh pemutakhiran beberapa data, agar bacaan di dalamnya terasa kontemporer.

“Sistem penyusunan ensiklopedia itu agak ketinggalan zaman,” kata Huang Annian, Guru Besar Sejarah yang kini bermukim di AS.

Dia bilang satu-satunya penghalang keberhasilan ensikplodia ini adalah intervensi berlebihan dari Beijing.

“[Ensiklopedia] manapun harus bisa beradaptasi dengan perkembangan tren abad 21, menghormati sejarah dan punya mentalitas menyongsong masa depan. Saya pikir akan sangat penting bagi sebuah ensiklopedia menekankan fakta adanya globalisasi dari perekonomian dunia, kejayaan demokrasi saat ini, serta keragaman budaya di seluruh dunia,” ungkapnya. [**]

163 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

iklan khusus