DAIKIN mengadakan Installer Gathering Fy’17 di Ruang Basurek Lantai Tiga Hotel Santika Bengkulu, Senin (16/10/2017).

Installer Gathering Fy’17 ini menjadi sarana untuk menjalin silaturahmi dengan para teknisi yang tergabung dalam satu pintu freelance Indonesia.

Selain itu, acara ini diadakan untuk saling berbagai pengetahuan cara memasang teknik instalasi yang benar.

“Dengan demikian, para pemilik dan pengguna AC mendapatkan performa yang maksimal,” kata Andy Hermanto, Manager Daikin Sumbangsel, usai acara.

Ia menjelaskan, pada beberapa kota, ada teknisi yang hanya mementingkan kecepatan namun tetap mengindahkan aturan dan teknik-teknik yang benar.

“Melalui Installer Gathering Fy’17 ini kami mengajak para teknisi agar dapat menggunakan teknik-teknik yang benar,” paparnya.

Ia mengungkapkan, acara ini sebenarnya surprise. Undangan yang disebar sebanyak 100 undangan. Namun dari data absen tadi peserta sudah melebihi target yang direncanakan.

“Yang hadir sampai 115 orang. Ini pertama kali diadakan di Bengkulu. Dan ini khusus untuk di Kota Bengkulu. Untuk kabupaten masih kita rencanakan dalam acara selanjutnya,” beber Andy.

Dengan acara ini, tambah Andy, pihaknya berupaya memperkenalkan Daikin kepada masyarakat dan instaler di Bengkulu. Pasalnya, kata dia, meski menjadi nomor satu di Jepang, Amerika dan Eropa, namun masih banyak masyarakat yang belum mengenal Daikin.

“Penyebabnya Daikin Indonesia masuk ke Indonesia tahun 2012 dan masuk melalui distributor. Sejak 1983 sampai 2012 omzetnya stagnan. Tidak banyak kegiatan marketing yang dilakukan. Mereka taunya hanya profit-profit-profit. Sehingga dari Daikin melihat, kenapa di Indonesia Daikin terpuruk sedangkan di negara lain satu. Sehingga kita ambil alih saham distributor kita dan masuk langsung dari pabrik sejak 2012,” urainya.

Sambung Andy, pada Installer Gathering Fy’17 ini teknisi diberikan insentif sekaligus ajakan untuk mengikuti program mereka. Dari sini, para teknisi akan mengikuti tata cara yang Daikin ajarkan.

“Untuk memasang AC daikin, jika mereka melakukan itu mereka boleh joint dan bisa mendapatkan itensif. Itu yang mau kita naikkan dulu dari kualitas. Dari masyarakat Bengkulu agar dapat menikmati kualitas AC dengan maksimal. Sehingga mereka tidak merasa merk Daikin itu merk mahal. Dengan berkualitas tentu mempengaruhi harga,” tukasnya.

“Kita sangat konsen sekali dengan para teknisi. Ditangan mereka inilah kualitas suatu produk dipertaruhkan. Kalau sampai mereka memasang dengan cara yang tidak baik, tidak benar, tentu konsumen tidak akan dapat menikmati atau merasakan kualitas yang betul-betul 100 persen. Mungkin tingkat kepuasannya hanya 70 persen,” lanjut Andy.

Perbedaan Daikin dengan merk lainnya, ujar Andy, merk lain sangat jarang yang seperti Daikin. Daikin ini merk spesialis AC, atau tidak membuat produk lain selain AC.

“Kita tidak menciptakan, mesin cuci, kulkas atau alat elektronik lainnya, kita hanya menciptakan AC dan fokus dengannya. Sehingga mau tipe jenis AC apapun kita punya. Daikin sendiri pertama kali dikenal di Indonesia adalah untuk gedung-gedung pencakar langit. Karena untuk masuk ke gedung tersebut harus memiliki spek dan standart tersendiri. Untuk bisa dipasang di gedung yang lebih dari 30 lantai keatas harus memiliki konsep green building. Di Indonesia hanya ada tiga merk, salah satunya adalah Daikin. Daikin pioner dalam konsep green building,” sampainya.

Branch Manager Central Elektro, Irawan, mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, hal ini positif untuk menjaga komitmen atas kepuasan pelanggan.

Di Bengkulu sendiri, penjualan Daikin berpusat di Central ELektro yang beralamat di Jalan P Natadirja Nomor 37 KM 6,5 Kota Bengkulu. Informasi lebih jauh dapat menghubungi nomor 0736 (7324996).

Sementara Agus (39), warga Gang Melati UNIB Belakang, teknisi yang ikut dalam kegiatan ini mengatakan, berterimakasih kepada Daikin yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.

“Kami sebagai teknisi dilatih untuk memasang instalasi AC terkhusus Daikin Indonesia. Ada wawasan baru yang kami dapatkan dari para instruktur dan pemateri yang menyampaikan materi yang luar biasa. Pada saat sesi istirahat kami juga mendapat kesempatan saling bertukar fikiran maupun sharing dengan sesama teknisi,” demikian Agus. [Nurhas]