BENGKULU, PB – Kapenrem 041/Gamas Mayor Inf David Suardi nampak serius untuk maju menjadi calon walikota pada Pemilukada 2018 mendatang. Apalagi, jebolan Akmil itu telah mendeklarasikan Bakhsir, mantan birokrat di Provinsi Bengkulu, sebagai pendampingnya nanti.

Sesuai dengan aturan, seorang PNS dan TNI/Polri wajib untuk meletakkan jabatannya saat maju dalam kontes demokrasi. Hal yang sama harus dilakukan oleh David. Dia harus menggantung seragam tentra yang selama ini dibanggakannya.

“Jika tekad sudah bulat, keputusan sudah diambil, ikhtiar sudah dilakukan, maka selanjutnya biarkan doa dan takdir bertempur di langit,” kata David.

Kapan seragam itu akan dicopot? David menyampaikan sesuai ketentuan di KPU, seorang PNS, TNI/Polri, anggota dewan itu mundur dari jabatannya setelah dinyatakan sebagai calon. Artinya baju lorengnya akan dilepaskan pada 12 Februari 2018.

“Jadi masih lama waktu saya untuk dinas di TNI,” jelasnya.

Dengan keputusan itu, berarti sosialisasi pencalonannya pun tidak akan gencar sebagaimana calon lain yang sudah memasang spanduk atau alat peraga kampanye lainnya.

“Proses sosialisasi itu setelah kita masuk gelanggang, dapat nomor punggung,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, sambungnya, ia akan melakukan konsolidasi terlebih dahulu dengan wakilnya Bakhsir. Kedua tim juga akan digabungkan sehingga terbentuk satu kesatuan tim.

“Baru akan tentukan langkah strategis kedepannya,” ucapnya.

Sebulan setengah ini, lanjutnya, ia akan fokus untuk mengumpulkan KTP sebagai syarat dukungan. Sebenarnya saat ini fotokopi identitas kependudukan itu sudah cukup. Sebab, timnya sudah memiliki 17 ribu KTP dan Bakhsir mengklaim sudah punya 5 ribuan KTP.

“Artinya kalau besok KPU buka pendaftaran, maka kami sebenarnya sudah siap. Tapi kita akan tetap kumpulkan dukungan, kalau bisa jumlah KTP kita 2 kali lipat dari persyaratan,” pungkasnya. [CHO]