JAKARTA, PB – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan kembali menggelar rangkaian acara Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) 2017. Acara ini terdiri dari lomba foto, video instagram, komik strip, dan cipta lagu revolusi mental.

Di tahun keduanya ini disebutkan bahwa kualitas dan kuantitas dari para partisipan meningkat. Sesmenko PMK Satya Sananugraha berharap karya-karya yang dihasilkan melalui acara ini dapat menjadi alat bagi Kemenko PMK untuk terus mensosialisasikan nilai-nilai revolusi mental.

“Harapannya dengan acara ini tentunya nilai-nilai revolusi mental itu bisa semakin tersosialisasi. Kan kita ini ada lewat foto, lewat IG, terus lewat komik, dan cipta lagu,” ujar Satya, seperti dikutip dari detik.com, di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (20/10/2017).

Sejalan dengan hal itu, para pemenang lomba ini pun membawa semangat yang sama. Salah satu contohnya adalah band Child Out yang berhasil meraih juara 1 dalam kategori Cipta Lagu Revolusi Mental.

“Kami Child Out ingin mewakili orang-orang di sekitar kami juga… kami cari inspirasi di jalanan. Kita merasa bahwa kita emang perlu merevolusikan mental kita, misal untuk lebih berani berpendapat,” ujar vokalis band Child Out, Cita di lokasi yang sama.

Peraih juara 2 di kategori video Instagram, Putu Bayu Ariwiguna punya cerita yang berbeda. Ia lebih berfokus pada isu keberagaman Indonesia, terutama dilihat dari sisi agama. Karena menurutnya saat ini sudah terlalu banyak pemberitaan yang menyinggung isu-isu agama.

Dalam videonya, ia banyak mengambil footage berbagai rumah ibadah yang mewakili seluruh agama yang diakui di Indonesia.

“Kan sekarang banyak ya berita-berita yang nyinggung agama dan itu saya nggak suka. Ya mumpung ada kesempatan ini, saya langsung kreasikan apa yang saya pengenin. Saya ngambil tentang indahnya persatuan diselipkan dengan landscape di Bali, memvisualisasikan kalau kita bersatu, kita tuh indah seperti pemandangan itu,” tutur Bayu.

Karya-karya bertema revolusi mental ini memang banyak hadir dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Juara 3 dari kategori komikstrip,Supriyanto juga mengakui bahwa karyakomiknya terinspirasi dari pengalaman sehari-harinya apabila sedang dalam perjalanan menuju kantor.

Menurutnya banyak hal-hal kecil dalam keseharian kita justru sangat butuh direvolusikan.

“Ini ngangkat tema sehari-hari juga. Berhubungan dengan keseharian saya kalau mau ngantor. Misal kayak ini naik busway, udah tau ada tanda ‘no standing area’ tapi masih berdiri disitu,” ucap Supriyanto.

Ia berharap karyanya dapat menjadi inspirasi bagi semua orang, terutama orang-orang terdekatnya untuk berubah dan mulai memperhatikan hal-hal kecil di sekitar.

“Melalui tampilan visual ini saya ingin mengajak orang-orang terdekat saya untuk berubah,” sambungnya kemudian.

Sementara itu juri untuk kategori komik, Muhammad Misrad atau yang akrab dengan sebutan Mice menyebutkan bahwa karya-karya komik yang dibuat oleh para komikus dalam perlombaan ini telah cukup tepat dalam penyampaiannya. Menurut Mice, pesan atau kritik dalam komik memang lebih baik disampaikan dengan cara humor.

“Tidak men-judge, jadi memberi pengarahan pada masyarakat itu harusnya dengan cara yang jenaka. Jadi kritikan dengan jenaka itu yang paling ampuh menurut saya. Tapi tetap dengan cara yang santun ya,” tutur Mice usai acara pemberian penghargaan GNRM 2017 di lokasi yang sama.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Sesmenko PMK Satya Sananugraha, ia juga berharap para kreator yang mengikuti kompetisi ini bisa terus berkarya.

“Harapan saya mereka bisa terus berkarya di jalur ini, tidak stop sampai sini,” tutupnya. (anr /ram)