BENGKULU SELATAN, PB – Rumah Sakit Umum Daerah Hasanudin Damrah (RSUD HD) Manna belum menerima pasien cuci darah. Padahal, peralatan, tenaga medis dan perizinan Hemodealisa sudah lengkap.

Hanya saja, saat ini belum ada kerjasama atau nota kesepahaman (MoU) antara RSUD HD dan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Sebenarnya sudah siap operasi. Perizinan dan tenaga medis sudah siap. Masih menunggu MoU dengan BPJS lagi. Karena mayoritas pasien yang akan cuci darah ini merupakan pasien BPJS,” jelas Direktur RSUD HD Manna, drg Adhe Ismunandar, Sp.BM kepada awak media, Jumat (13/10/17).

Dalam rangkat menjajaki dan melihat kesiapan RSUD HD, dijadwalkan pada Senin atau selasa (16-17 Oktober 2017) perwakilan Kantor Cabang BPJS Kesehatan Bengkulu akan turun ke RSUD HD.

“Masih dibahas ini masalah klaim. Pihak BPJS hanya siap membayar klaim cuci darah itu Rp 760 ribu samp Rp 800 ribu sekali cuci darah. Padahal idealnya itu tarif cuci darah mencapai Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta sekali cuci darah,” jelasnya.

Sebagai solusi, Adhe menawarkan supaya ada subsidi dari Pemerintah Daerah.

“Biaya alat, obat dan perlengkapan cuci darah itu biayanya mencapai Rp 440 ribu. Belum ditambah biaya lainnya. Makanya supaya Rumah Sakit tidak terlalu banyak nombok, sebaiknya ada subsidi dari pemerintah daerah,” pungkas Adhe Ismunandar. [Apd]