REJANG LEBONG, PB – Terhitung sejak akhir 2010 lalu, lokasi kampung Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM) di Desa Bandung Marga Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) telah berpindah tangan kepada warga setempat.

Padahal, lokasi transmigrasi tersebut baru dibentuk dan di isi oleh warga transmigrasi asal kepulauan Jawa Desember 2009 lalu.

Ironisnya, informasi beredar jika 25 unit rumah bantuan transmigrasi beserta lahan pertanian bantuan bagi warga transmigrasi itu telah diperjual belikan dengan harga berkisar Rp 11 juta hingga 20 juta per unit rumah dan bidang lahan pasca penyerahan sertifikat hak milik kepada warga transmigrasi.

“Warga transmigrasinya sudah pada pulang pak. Sudah lama, kami membeli rumah dan lahan ini kepada mereka. Alasan mereka disini lahannya tidak bisa di garap, ” ujar pur, salah satu warga yang saat ini menempati lokasi trans.

“Kami tidak tahu mengenai ini pak. Tetapi 35 unit rumah yang ada disini semuanya sudah bukan milik warga trans lagi kok pak, ” sambung Pur.

Camat Bermani Ulu Raya (BUR), Mulyanda Dahwan tak menampik informasi itu. Dikatakan Mulyanda, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah lokasi Transmigrasi lain di Kecamatan yang Dia Pimpin.

“Kita akan mengecek lagi ke lokasi atas temuan ini,” ujar Mulyanda.

Sesuai amanah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian Penyesuaian diubah oleh Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian serta Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian Telah Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian, rumah serta lahan bantuan tidak boleh di perjualbelikan sebelum warga asli transmigrasi menempati 15 tahun. [Ifan]