BUAH cemara pantai berguguran, jatuh berserakan di pasir ketika angin bertiup kencang, beberapa biji menimpa kepalaku. Tersangkut dan bersemayam di rambutku yang sedikit kribo, aku raba rambutku, mencari dimana letak buah cemara itu bersembunyi lengket di rambut. Lalu buah yang ukurannya lebih kecil dari kelereng itu kuambil, aku dekatkan ke hidungku, ada sedikit aroma harum yang tercium. Buah cemara pantai memang sedikit mengeluarkan aroma yang enak bila dicium.

Sudah hampir dua minggu angin bertiup kencang, kadang badai datang tiba-tiba tanpa bisa diprediksi, gelombang laut cukup tinggi. Hanya kapal-kapal penangkap ikan ukuran besar yang berani menantang gelombang. Tapi untuk nelayan selevelku, yang hanya memiliki perahu kecil, sampan dengan mesin temple ringan, tak mungkin memaksakan diri ke laut. Perahu kecil ini bisa terbalik dihempas gelombang atau dikembalikan ke pantai lagi oleh ombak besar, menghempas di pasir dengan keadaan perahu rusak dan cadik patah. Sembari menunggu cuaca membaik, bersahabat untuk melaut banyak aktifitas yang dapat dilakukan, memperbaiki dinding kapal yang mulai retak, memberi dempul dengan getah damar ataupun bahan-bahan yang bisa dibeli di toko material. Memperbaiki jaring dan pukat, meluangkan waktu lebih untuk bercengkerama dengan anak.

Perahu-perahu kecil berjajar di sepanjang pantai, tampak beberapa nelayan sedang memperbaiki cadik yang patah ataupun mengecat ulang perahu agar tampak bagus dan dapat menghindari kebocoran. Perahu warisan ayahku sudah selesai aku permak, sudah siap untuk dibawa melaut bila cuaca mulai membaik. Aku berjalan menyusuri pasir putih pantai. Enam puluh persen warga pasar pantai menggantungkan hidupnya pada rezeki dari laut, menjadi nelayan penangkap ikan, udang ataupun cumi-cumi atau menjadi pengolah hasil laut menjadi produk ikan kering yang cukup laku di pasaran dengan harga yang memuaskan.

Selain memperbaiki sampan aku gunakan waktuku untuk membantu kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an yang ada di sebelah rumahku. Dulu saat aku kecil aku juga belajar di TPQ ini. Dengan bangunan semi permanen, atapnya sudah terlalu lama tak diganti apa lagi dengan cuaca buruk saat ini, semakin menambah parah, beberapa seng sudah terlepas pakunya, hingga saat ada angina kencang bunyi seng itu sangat berisik tak jarang ada yang terhempas, lepas. Maka air hujanpun masuk tanpa ada halangan, membasahi meja dan kursi yang memang tidak bagus lagi.

Awan hitam tampak bergumpal, menutup sebagian langit, udara semakin terasa dingin dengan tiupan angina yang cukup kencang, pohon cemara dan kelapa tampak condong searah dengan arah angina bertiup, beberapa orang nelayan yang sedang memperbaiki perahu bergegas meninggalkan pantai, kulihat Datuk Amri berjalan cepat ke arahku.

“Tampaknya sebentar lagi ada badai Ris,” ujar Datuk Amri begitu jaraknya sudah sangat dekat denganku.

Aku mengiringi langkah datuk Amri yang begitu cepat menuju ke pemukiman, lalu kami berhenti di sebuah warung kopi yang cukup luas.

Beberapa orang menyapa dan menyalami datuk Amri. Tak ada yang tak mengenal datuk Amri, seorang pelaut ulung, pernah menjadi kapten kapal penangkap ikan ukuran besar dengan puluhan anak buah kapal, berlayar berbulan-bulan di tengah samudera. Berpetualang di tengah ganasnya ombak dan badai. Kehidupan pelaut dan nelayan di pesisir Bengkulu tak terlalu jauh dengan hal-hal buruk, minuman keras, perjudian dan main perempuan, begitu pula dengan datuk Amri muda. Begitu kapal menyandar, bongkar dan menurunkan hasil tangkapan kenudian ada masa istirahat empat hari atau seminggu, waktunya dihabiskan dengan dunia malam, minuman keras dan perjudian, tak jarang terjadi perkelahian, namun datuk Amri muda adalah seorang ahli bela diri, dan itu membuat orang semakin mengenal dan segan dengan datuk Amri.

Tapi sepuluh tahun yang lalu semua berubah, kehidupan dan perilaku datuk Amri berubah, bagai langit dan bumi, bagai siang dan malam, ibarat kutub utara dengan kutub selatan, Datuk Amri lebih lembut, suaranya tak lagi menggelegar dengan bumbu umpatan atau carutan kalau istilah orang Bengkulu. Saat kapalnya pulang dan bersandar di pelabuhan untuk membongkar muatan, ia habiskan waktunya di masjid, mengikuti majelis taklim, sebelunnya dia sangat sinis padaku, karena kegiatanku setelah melaut adalah mengajar mengaji di TPQ, dia menganggap orang-orang seperti aku adalah orang-orang munafik. Sekarang kami sering bersama, berjamaah sholat subuh maupun duduk saat pengajian. Tak lama kemudian datuk Amri berhenti sebagai kapten Kapal, dengan modal yang ia miliki dibelinya sebuah perahu ukuran sedang dengan kapasitas tiga orang anak buah kapal. Sekarang waktunya lebih banyak ia habiskan di darat, bercengkerama dengan cucunya atau mengantar anak bungsunya yang masih duduk di SMP ke sekolah atau mendampingi saat ada perlombaan. Kebetulan anak bungsunya adalah binaanku di TPQ dan sering latihan puisi di rumahku. Sudah beberapa kali menjuarai lomba puisi. Dan itu membuat hubunganku dengan datuk Amri semakin dekat

***

Setelah sholat subuh aku dan datuk Amri duduk-duduk di teras masjid, sambil bersandar di dinding, meluruskan kaki, terasa nikmat, apa lagi dengan hembusan angin pagi yang terasa sejuk.

“Sudah puluhan tahun datuk hidup dan mencari hidup di laut,” datuk Amri memulai pembicaraan diawali dengan berdehem pelan.

Aku menoleh, menatap wajah datuk Amri yang dipenuhi cambang dan jenggot yang sudah memutih. Tergambar betapa keras dan beratnya perjuangan hidup dari sorot matanya.

“Sudah ratusan kali datuk melihat kematian di laut, sudah puluhan kali pula datuk selamat dari kematian di laut, dihempas gelombang besar hingga kapal tak jelas berlayar ke mana di gelapnya malam,” ujar datuk Amri lirih dengan tatapan kosong mengarah ke pantai.

“Saat di tengah laut apakah datuk merasakan takut juga?”

“Pasti Ris, hanya Datuk tak tampakkan pada anak buah kapal, hanya datuk yang tahu,” datuk Amri menjawab dengan suara bergetar

“Nanti datuk akan turun ke laut Ris,” ujar datuk sambil mencoba berdiri, setelah berdiri dia luruskan tangan ke atas sambil menyatukan jari-jari, mencoba meregangkan tubuh, seperti orang saat pemanasan sebelum olah raga.

“Tapi cuaca masih kurang bagus Tuk,”

“Badan datuk pegal semua kalau terlalu lama tidak ke laut,” datuk Amri mengakhiri perbincangan, berjalan dengan gesit sambil menggerakkan tangannya memutar, seperti sedang melakukan gerakan senam.

Tampak sekali kalau sedang bersemangat.

***

Matahari tampak malu-malu, mengintip perlahan dari balik bukit barisan, sinarnya redup tertutup awan. Kulihat datuk Amri sudah berada di posisi kemudi kapal kecilnya, seorang ABK tampak masuk ke ruang mesin, tak lama kemudian terdengar mesin kapal berbunyi dengan berisiknya. Terombang-ambing melawan terjangan ombak yang datang, kapal kecil itu berusaha melewati ombak pantai yang cukup tinggi, berlahan namun pasti, kapal datuk Amri menjauh dari pantai, berlayar menuju arah pulau Tikus.

Selain datuk Amri, tampak beberapa nelayan juga sudah mulai memberanikan diri melaut, dengan kapal atau perahu ukuran kecil sudah tentu tidak terlalu jauh melautnya. Awan kelabu tampak berarak menutup cahaya sang surya. Aku segera meninggalkan pantai Pasar Bengkulu, aku memang belum berani melaut, selain itu perahuku masih perlu perbaikan. Ada beberapa barang yang harus aku beli dan persiapkan, juga barang-barang untuk keperluan Taman Pendidikan Al-qur’an yang aku bina. Membeli setengah kodi seng untuk mengganti seng yang sudah tak layak, datuk Amri sebelum melaut sempat memberiku uang sebagai infak untuk TPQ yang kegunaannya untuk membeli seng.

***

Aku sedang menata barang-barang yang baru saja aku beli, meletakkannya di samping masjid yang bersebelahan dengan lokasi taman pendidikan al-qur’an ketika Hujan disertai angin datang tiba-tiba dengan begitu lebatnya. Kadang anginnya berputar, mengangkat atap rumah yang sudah rapuh, yang memang sudah terlepas dari pakunya. Aku segera berteduh di teras masjid, ada juga beberapa orang yang lebih dulu mencari perlindungan dari derasnya hujan. Kulihat ada dua orang berlari-lari kecil ke arah masjid, aku mengenalnya, donga Asrul dan cik Rijal, yang biasa berkumpul di posko nelayan.

“Saya baru saja dapat kabar melalui radio, kapal datuk Amri rusak parah dan tenggelam,” kata cik Rijal dengan nafas tersengal.

Beberapa orang yang berada di teras masjid terkejut mendengarnya. Akupun tak kalah terkejutnya. Tanpa dikomando kami yang berada di teras masjid segera berjalan menuju pantai, ditengah derasnya hujan dan tiupan angin yang sedikit mereda. Sesampai di pantai kulihat beberapa perahu yang bersusah payah berusaha mendarat. Dengan perasaan cemas aku menghampiri beberapa orang yang baru saja turun dari perahu. Beberapa orang dari keluarga datuk Amri juga tampak di sekitar pantai, menunggu atau mencari kabar tentang datuk Amri dan anak buah kapalnya. Tampak jelas rasa cemas tergambar dari wajah-wajah yang berada di pantai.

Tak berapa lama kemudian di tengah laut tampak sebuah kapal milik Polisi air dan udara melaju cepat menuju pantai, ketika mendekati pantai tampak seseorang melambai-lambaikan tangannya di haluan kapal.

“Itu Agus…!” teriakku sambil menunjuk ke arah kapal Pol Airud, Agus adalah salah seorang anak buah kapal milik datuk Amri.

Karena kapal milik Pol Airud tak bisa mendarat di pantai, maka beramai-ramailah orang berlari munuju kapal, menceburkan diri ke laut, masuk ke air sebatas pinggang. Di tengah guyuran hujan dengan dihiasi tiupan angin yang lumayan kencang.Tampak tiga orang anak buah kapal datuk Amri berusaha turun dari kapal, dibimbing beberapa orang kerabat dan anggota polisi Air dan Udara.

“Mana datuk Amri?” tanyaku pada Ican dengan cemas, Ican salah seorang anak buah kapal datuk Amri yang paling muda, umurnya baru enam belas tahun. Badannya tampak menggigil kedinginan, bibirnya sedikit membiru dan bergetar, dia menjawab pertanyaanku dengan isyarat tangannya, dengan menunjuk ke arah geladak kapal Pol Airud. Aku segera naik ke kapal patrol milik Airud, Aku lihat datuk Amri duduk memandang samudera di depannya, badannya berselimut sarung hingga ke leher. Ketika mendengar langkahku dia menoleh ke belakang, senyum khasnya tersungging di bibirnya yang pucat.

“Lancang Sang Surya tampaknya lebih betah di laut,” ujar datuk Amri, dia tak pernah menyebut kapalnya dengan kata kapal, dia lebih suka menyebut lancang, dengan tulisan di lambung tertera tulisan Sang Surya.

“Yang penting Datuk selamat dan sehat,” kataku sambil membimbingnya turun dari kapal patrol, tak lama kemudian beberapa orang kerabat datuk Amri datang membantu. Kapal datuk Amri tenggelam di perairan Ketahun, untung saja ada kapal patrol Airud yang melintas, sehinga datuk Amri dan anak buah kapalnya bisa segera tertolong, tidak terlalu lama berada di laut yang sedang bergolak. Gema takbir dan ungkapan rasa sukur terdengar bergema dari warga di sekitar pantai, dari kerabat dan keluarga datuk Amri dan anak buah kapal Sang Surya.

***

Aku terbangun saat Azan subuh baru saja dikumandangkan, segera aku mengambil wudhu dan melangkahkan kakiku ke masjid yang hanya puluhan meter jaraknya dari rumahku. Hawa segar dan aroma khas daerah pantai begitu menentramkan. Dalam perjalanan ke masjid aku berpapasan dengan datuk Amri. Dengan gaya berjalan yang tak berubah, berjalan sambil menggerakkan tangannya sekan bersenam, katanya untuk memperlancar peredaran darah, agar lebih bugar.

“Wuiih sudah segar lagi Tuk,” ujarku senang, melihat datuk Amri sehat dan bersemangat, padahal kemarin sore baru saja tertolong dari musibah.

“Alhamdulillah, Datuk masih diberi kesempatan untuk sholat subuh bersamamu.”

Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata datuk Amri. Kami masih sempat sholat sunah dua rakaat, sebelum muazin mengumandangkan iqomah.

Selesai Salam, aku lihat datuk Amri begitu khusuk berzikir dan berdoa, aku duduk bersandar di dinding masjid, menunggu datuk Amri selesai berdoa. Karena aku masih ingin mendengar cerita datuk Amri. Sambil menunggu aku tilawah beberapa ayat, sambil sesekali melirik ke  arah datuk Amri, kulihat dia bersujud, lama sekali sujudnya. Aku lanjutkan tilawahku beberapa ayat, ku lihat datuk Amri masih dalam posisi sujud. Entah kenapa, naluriku seakan memerintahkan aku mendekati datuk Amri. Aku duduk di sebelah datuk Amri yang sedang sujud, aku mencoba menyentuh bahunya, tak ada respon, perasaanku tak menentu. Aku goyangkan sambil memanggil namanya, tubuhnya lalu rebah ke sebelah, dari posisi sujud. Aku dekatkan telapak tanganku ke hidungnya, tak kurasakan hembusan nafas, aku panik, lalu keluar masjid, berteriak memanggil warga.

Datuk Amri meninggal, di tempat yang suci, dalam keadaan suci. Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke surgaku, masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku, dengan ridho dan diridhoi.

Elvi Ansori. Bengkulu, Desember 2016

Foto Istimewa