REJANG LEBONG, PB – Warga Transmigran Swakarsa Mandiri (TSM) lokasi Transmigrasi 25 Desa Pal 7 Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) meminta perlakuan adil soal pelayanan Kesehatan dan penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL).

Pasalnya, terhitung sejak dibentuknya kampung Transmigrasi tersebut awal tahun 2010 lalu, warga belum merasakan dua pelayanan vital tersebut. Padahal, dilokasi transmigrasi yang mayoritas dihuni oleh warga asal Yogyakarta dan Solo Jawa tengah itu terdapat puluhan anak-anak Balita dan warga mayoritas berprofesi sebagai Petani.

Rohayati (40), petani wanita warga setempat saat ditemui di kebun cabe garapan miliknya justru mengeluh lantaran tanaman cabe miliknya mengalami penyakit daun kuning.

Kondisi ini tidak sama dengan tanaman cabe yang di tanam oleh warga asli desa Pal 7 yang hanya berjarak 700 kilometer dari kebun miliknya.

“Saya berulang kali mencoba menanam cabe ini tetapi selalu gagal pak. Saya bingung mau bertanya apa penyebab tanaman saya seperti ini kepada siapa. Sebab, sejak awal menempati lokasi transmigrasi ini tidak pernah ada penyuluh pertanian yang datang kesini memberikan bimbingan dan arahan,” ujar Rohayati, Senin (23/10/2017).

Hal senada disampaikan oleh Wagito (55) Warga setempat asal Yogyakarta. Dikatakan pria yang dituakan di lokasi transmigrasi tersebut, tak hanya penyuluh pertanian saja yang tak pernah datang, melainkan tenaga medis Bidan yang seharusnya memberikan pelayanan Posyandu kepada warga setempat satu kali dalam satu bulan juga tidak pernah ada.

“Sudah kerap kali kami beritahukan pak, tetapi mereka tak mau datang dengan alasan jalan menuju lokasi kami tidak bagus pak. Jadi setiap balita terpaksa kami bawa ke desa Pal 7 jika ingin di imunisasi. Padahal, dengan jarak tempuh mencapai 3 KM tersebut dapat menyebabkan anak-anak tersebut sakit terkena angin pak, ” ujar Wagito. [ifan]