Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rejang Lebong, Tarsisius Samuji (Foto: Benny/pedoman)

REJANG LEBONG, PB – Terkait salah satu tuntutan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Penyakit Masyarakat (PEKAT) dalam aksi demo pada Rabu pagi (22/11/2017) di Polres Rejang Lebong, yang mana menuntut kepada aparat penegak hukum mengusut praktek jual-beli buku ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Rejang Lebong.

Pantauan Pedoman Bengkulu, ditemukan buku dengan judul “Bahaya Narkoba” beredar luas di beberapa dinas atau Instansi dan Sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Rejang Lebong.

Buku dengan judul “Bahaya Narkoba” terbitan PT. Tirta Asih Jaya, Buku ini diproduksi dalam 5 seri, berikut rinciannya:
– Seri pertama berjudul Bahaya Narkoba sub judul sejarah narkoba.
– Seri kedua berjudul Bahaya Narkoba sub judul penyalahgunaan narkoba.
– Seri ketiga berjudul Bahaya Narkoba sub judul dampak dan bahaya narkoba.
– Seri keempat berjudul Bahaya Narkoba sub judul upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba, dan
– Seri kelima berjudul Bahaya Narkoba sub judul tata cara merehabilitasi pecandu narkoba.

Buku berjudul Bahaya Narkoba Diduga dijual diatas harga eceran tertinggi (HET) (foto: Benny/pedoman)

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rejang Lebong, Tarsisius Samuji membenarkan ada praktik jual beli buku seri narkoba tersebut.

“Buku narkoba itu memang benar ditawarkan oleh salah satu oknum untuk dijual ke sekolah-sekolah. Yah, saya persilahkan jika mau menjual buku, bisa menggunakan alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jika diperbolehkan dalam aturan, yang terpenting jangan ada unsur paksaan ke pihak sekolah,” tegas Samuji.

Terkait harga jual buku tersebut, pihak dinas Pendidikan justru tidak mengetahui berapa besaran harga buku yang diperjual belikan oleh oknum tersebut.

“Untuk harga buku tersebut, yang bersangkutan tidak pernah menjelaskan berapa besarannya kepada Dinas Pendidikan,” pungkas Samuji yang ditemui Kamis (23/11/2017) di ruang kerjanya.

Beredar kabar, jika buku berjudul Bahaya Narkoba tersebut, masuk ke wilayah Rejang Lebong melalui tangan salah seorang oknum berinisial GM, dan diperjual-belikan dengan harga Rp.2,2 juta untuk 5 seri, atau seharga Rp.440.000 untuk setiap serinya buku.

Jika mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 173/P/2017 mengenai standar harga eceran tertinggi buku, Provinsi Bengkulu masuk dalam kategori Zona III, dengan harga buku tertinggi senilai Rp.39.100/exemplar.

Tentunya harga buku dengan judul Bahaya Narkoba, yang dijual-belikan di sekolah-sekolah sebagai buku referensi bacaan, jauh melebihi batas harga eceran tertinggi yang diatur dalam Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 173 tahun 2017. [Benny]