JAKARTA, PB – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah, membutuhkan kesiagaan tinggi oleh semua pihak. Para pemangku kepentingan diharapkan meningkatkan komunikasi dan koordinasi.

“Bisa dengan melibatkan masyarakat, misalnya dengan radio komunitas, atau orari. Dengan radio komunitas, bisa saling menyuarakan himbauan dan seruan agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan antisipasi,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, di Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Mensos juga menyampaikan rencananya untuk berkunjung ke lokasi bencana di Pacitan, sekaligus memberikan santunan kepada keluarga korban bencana.

Kementerian Sosial sendiri yang berada di bawah koordinasi Kemenko PMK sudah menggelar kesiagaan nasional terkait datangnya musim penghujan yang terkadang disertai cuaca ekstrim. Salah satu langkahnya adalah dengan memetakan kesiapan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Pemetaan ini penting. Sebab, tidak semua korban di kawasan bencana menerima semua layanan darurat yang dibutuhkan. Misalnya, kebutuhan akan terapi psikologis karena trauma.

“Ya kalau pada daerah bencana ini dekat dengan perguruan tinggi yang memiliki fakultas psikologi. Kalau tidak? Nah di sinilah pentingnya keberadaan Tagana yang ahli dalam Layanan Dukungan Psikososial (LDP),” kata Mensos.

Tagana sendiri memiliki spesifikasi keahlian di bidang masing-masing. Ada yang ahli dalam pembuatan shelter, dapur umum, juga ada yang ahli dalam Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Saat ini, Kemensos memiliki 7.150 Tagana dengan kemampuan LDP.

Untuk daerah yang rawan bencana, Kemensos sudah menyiapkan Kampung Siaga Bencana (KSB). Konsep KSB adalah menyiapkan warga di kawasan yang rawan bencana itu, sehingga siap bila sewaktu-waktu situasi darurat tiba.

Kini sudah ada 520 Tagana yang bertindak sebagai tutor, yang melatih warga setempat agar mampu dan tanggap terhadap datangnya bencana.

“Satu orang Tagana melatih 3-40 orang warga KSB,” kata Mensos.

Tak lupa, Mensos juga menyebut, penanganan bencana melibatkan TNI/Polri dan unsur-unsur lain termasuk dari masyarakat.

Terkait berbagai macam bencana, khususnya terkait dampak Siklon Tropis Cempaka yang sebagian besar melanda wilayah pantai selatan Jawa, Mensos melihat kesiapan logistik untuk korban, penting diperhatikan.

Mensos meminta dengan sangat agar kepala daerah yang daerahnya terdampak siklon tropis, agar segera menerbitkan SK Darurat Bencana. Agar dengan demikian, bantuan beras bisa segera sampai ke masyarakat korban bencana.

“Supaya kebutuhan logistik masyarakat tidak terlambat sampai ke tangan korban bencana,” katanya.

Menurut Khofifah, bupati/wali kota bisa mengeluarkan cadangan beras pemerintah (cbp) sebanyak 100 ton. Kalau beras itu habis terpakai, gubenur bisa mengeluarkan 200 ton beras.

Bila jatah itu juyga sudah terpakai, tidak usah khawatir, Kemensos masih memiliki stok sebanyak 278.000 ton.

“Nanti bila cadangan di daerah sudah terpakai, bisa diambil dari cadangan pemerintah pusat,” katanya.

Mensos mencontohkan Gubenur Jawa Barat yang sudah menerbitkan SK Siaga Darurat Bencana.

“Dengan SK tersebut menjadi payung hukum bila sewaktu-waktu dibutuhkan deploy logistik untuk koban bencana,” kata Mensos.

Terhadap kawasan yang terdampak Siklon Tropis Cempaka, Kemensos juga membangun dapur umum lapangan (dumlap) pada tujuh kabupaten/kota, termasuk menyiagakan 11 mobil dumlap. Di Jawa Timur, Tagana sudah digerakkan ke sejumlah lokasi terdampak bencana. [anr/ram]

Foto Istimewa