Published On: Sen, Des 4th, 2017

Jeritan Malam

“Bangun semua…!”

Teriakan itu terdengar saat diriku berada di antara tidur dan terjaga. Dengan sedikit terhuyung aku mencoba bangkit keluar dari tenda. Anggota reguku sudah berdiri dengan posisi siap di depan tenda.

“Ada apa Rul?” tanyaku pada Hairul, kepalaku sedikit pusing karena terkejut.

“Tidak tahu, tadi kak Ridwan teriak-teriak membangunkan seluruh regu,” katanya sambil berbisik.

Tak lama kemudian terdengar perintah dari tim panitia untuk segera membongkar tenda, mengemasi semua peralatan dan bersiap pindah lokasi perkemahan.

“Aduh, kemah safari rupanya kita malam ini,” gumam Jaka sambil mengusap matanya dengan air mineral gelas. Beberapa kali dia menguap. Aku lihat arlojiku, jarum pendek menunjuk angka satu.

Sesuai aba-aba, kami segera membongkar tenda, mengemasi peralatan dan bersiap lagi mengikuti perintah selanjutnya. Salah satu panitia kegiatan memberikan selembar kertas, berisi peta, lokasi baru yang akan kami tuju malam ini.

Hairul, Jaka, Andri, Roni dan Anton sudah siap dengan ransel dan perlengkapannya. Regu kami dapat giliran trip ke dua. Setelah lima menit grup pertama bergerak, kami diberi aba-aba untuk bergerak.

Dengan penerangan senter kecil kami berjalan menyusuri jalan setapak, kiri dan kanan adalah kebun karet milik perusahaan perkebunan ternama.

Aku lihat Andri masih tampak terkantuk-kantuk. Aku segera memberi aba-aba agar langkah dipercepat dengan harapan jarak antara regu trip pertama tidak terlalu jauh. Jalan semakin menanjak dan licin, kebun karet sudah terlewati. Di depan kami terbentang sungai, airnya tidak terlalu dalam sehingga bias diseberangi. Kami memasuki hutan, jalannya pun sangat sempit, penuh semak belukar, kulihat beberapa kali Andri dan Jaka terjatuh karena kakinya tersangkut semak atau akar pohon.

“Berhenti sebentar Al!” ujar Jaka pelan, nafasnya tersengal.

Kami berhenti sejenak. Jaka tampak membersihkan sepatunya dari akar dan tumbuhan menjalar yang tersangkut dikakinya. Di bawah sebuah pohon, dalam kegelapan kami duduk. Dengan diterangi senter kecil aku coba membaca peta.

“Apakah jalur kita sudah benar Al?” tanya Hairul sambil mengamati peta.
“Aku yakin benar kok, jalan setapak perkebunan, sungai kecil dan jalan hutan ini,” kataku yakin.

“Bagaimana kalau kita tunggu regu trip ketiga, kalau rame-rame kan enak,” kata Andri sambil membuka botol air mineral.

“Boleh juga,” kataku sambil mengarahkan senterku ke jalan setapak yang baru saja kami lewati. Barangkali ada tanda-tanda dari regu ketiga.

Sudah sepuluh menit kami istirahat dan menunggu, namun taka da tanda-tanda dari regu ketiga muncul, ada rasa heran muncul dipikiranku, mungkin teman-temanku juga, karena Andri,Jaka dan Roni tampak gelisah.

“Apakah kita tersesat?” tanya Anton pelan. “Atau regu ketiga yang tersesat,” ujar Hairul.

Anton memperhatikan peta, lalu mengarahkan senter ke semua arah. Berkali-kali melihat peta dan keadaan.

“Al!” Anton mencolek pundakku. Aku menoleh menatap Anton yang sedang mengarahkan cahaya senter ke sekeliling.

“Ya, ada apa?” tanyaku sambil mengikuti arah cahaya senter dari Anton.

“Didepan kita tak ada jalan,” kata Anton dengan sedikit bergetar. Jaka, Andri dan Hairul langsung ikut berdiri mengamati.

Benar sekali, jalan setapak kecil penuh belukar yang kami lewati terputus. Karena didepan yang ada hanya semak belukar dan pepohanan. Suasana makin gelap, bulan sabit yang muncul tak mampu menembus rimbunan pohon.

Kami sama-sama memperhatikan peta, dan aku yakin jalur yang kami tempuh benar.

“Al, coba lihat ke arah sana, aku mendengar suara,” bisik
Anton.

Memang benar, terdengar suara semak belukar seperti terinjak. “Mungkin itu regu ketiga,” ujarku semangat.

Namun tak lama kemudian terdengar suara dengusan dari balik semak-semak itu, dengusan dengan suara berat, seperti orang yang kesusahan bernafas, kami saling pandang.

“Mungkin Babi Hutan,” kata Hairul berbisik. Anton mengarahkan cahaya senter yang sudah mulai redup. Semak dan pohon-pohon kecil bergoyang seiring dengan semakin kerasnya dengusan.

Tanpa komando teman-teman segera mengemasi peralatan, dan segera beranjak. Aku melangkah cepat diiringi anggota regu. Tak lama kemudian terdengar lengkingan menyayat dari sumber suara tadi, seperti anjing yang melolong, tapi bukan suara anjing. Rasa ketakutan Nampak jelas diwajah-wajah anggota reguku. Akupun merasakan hawa dingin dan tengkukku terasa kaku, jantungku berdegup kencang. Kami melangkah terus menerobos semak dan hutan, berharap menemukan jalan setapak. Dengan saling berpegangan lengan baju.

Anton dan Hairul beberapa kali terjatuh, entah sudah berapa banyak goresan duri dari semak belukar yang mengores tangan. Lengkingan dan jeritan itu masih terdengar bahkan makin lama makin dekat, seakan mengikuti langkah kami. Yang membuat kami lebih ketakutan jeritan itu berubah jadi tangisan yang menyayat kadang melolong.

Andri berteriak kesakitan ketika kakinya tersandung akar pohon. Dia meringis sambil memegangi pergelangan kakinya, nampaknya dia terseleo.

Tangisan dan lolongan itu tak terdengar lagi. Kami berhenti dan beristirahat dibawah pohon yang akarnya membuat Andri terjatuh. Nafas tersengal-sengal dan wajah pucat.

“Sudah hilang suaranya,” ujar Anton pelan. Aku mengangguk.

“Suara apa tadi, aneh sekali, tak mungkin Babi hutan,” ujar Hairul ketakutan. Dian pukul-pukulkan senter di pahanya. Sukurlah, senter masih ada cahayanya walaupun redup.

Dengan saling berdekatan kami duduk dibawah pohon. Aku tak tahu jam berapa, karena Arlojiku mati saat jarum pendek tepat di angka dua.

“Mungkin suara beruang madu yang terluka,” kata Jaka, mencoba menenangkan hati.

“Tapi aneh sekali suaranya, seperti orang yang sedang disiksa,” ujar Anton sambil bersedekap, mengusir hawa dingin, atau bahkan mengusir rasa takutnya.

“Jaka, Hairul…, gerimis ya?” tanya Andri sambil mengusap mukanya.

Hairul, Jaka dan aku menandahkan tangan mencoba merasakan apakah ada air yang jatuh. Tak ada sama sekali.

“Nampaknya tidak An,” jawabku. Dari balik rimbunan pohon masih tampak bintang. Dan di arah Barat bulan sabit masih kelihatan walau sedikit tertutup awan.

“Tapi ada air yang menetes dan kena wajahku,” ujar Andri sambil menyeka wajahnya dengan lengan baju. “Busuk sekali!” teriaknya, membuat kami terkejut.

“Apanya An?” tanyaku heran, ada hawa aneh yang mulai membuat takut.

“Air yang kena wajahku, dari atas pohon ini,” kata Andri sambil seseali mencium jarinya. Memang ada hawa busuk yang tercium.

“Ya Allah..! Apa itu?” teriak Anton sambil mengarahkan cahaya ke atas pohon. Serentak kami melihat ke atas. Kami berdiri semua, agar pandangan lebih jelas.

Hairul Komat-kamit, Jaka, Andri dan Hairul saling berpegangan. Roni yang sedari tadi hanya diam mengambil senter dari tangan Anton, lalu mengarahkan ke atas pohon.
Tampak benda seperti sepatu, lalu kelihatan kaki. Astaghfirullah..! Ya Ampuun,” jerit Roni ketakutan.

Tampak di atas pohon itu sesosok tubuh.

Tergantung dengan tali yang menjerat lehernya, sosok tubuh dengan seragam lengkap, seragam SMA, rambutnya terurai dan matanya melotot. Kami semua saling berpegangan dilanda ketakutan yang amat sangat.

Lidahnya terjulur dan dari lidah itu menetes cairan. Dan cairan itulah yang jatuh tepat di wajah Andri.
Tanpa aba-aba kami lari tunggang langgang, beberapa kali tersungkur, kami benar-benar menjerit ketakutan.

Berlari terus sambil menjerit, hanya itulah yang mampu dilakukan, menerobos semak belukar. Dan secara bersamaan kami jatuh terjungkal karena kaki tersangkut.

Anton, Jaka, Roni dan Hairul masih berteriak-teriak saat jatuh karena kaki tersangkut.

“Anton, Jaka, Lihat!” sergahku membuat jeritan mereka terhenti. Rupanya tali pagar sebuah tenda yang membuat kami terjatuh bergulingan bersama.

Di depan kami ada tenda yang berdiri dan hamparan datar lapangan yang tidak terlalu luas. Ada beberapa tenda yang berdiri.

“Hoii! Kalian sudah sampai rupanya,”

Tiba-tiba terdengar suara, dan tampak kak Ridwan mendekat, dibelakangnya ada beberapa Panitia yang mengikuti.

Dengan nafas tersengal-sengal dan rasa takut yang belum hilang reguku berdiri.

“Lama sekali kalian,” ucap kak Saipul sambil tersenyum. Kami semua saling pandang, wajah Roni dan Anton masih pucat.

“Kami tersesat Kak, da nada kejadian aneh dijalan,” kataku. Kak Ridwan hanya tersenyum.

“Perlu kalian ketahui, kalian adalah regu yang mewakili ke Nasional, jadi harus kami uji,” ujar kak Saipul, membuat kami bingung.

“Maksudnya Kak?” tanya Roni yang masih kelelahan dan cemas.

“Peta sengaja kami buat agar kalian bingung, tapi kalian kami pandu kok dari belakang,” kata kak Ridwan.

“Suara-suara jeritan dan lolongan serta tangisan itu kami yang buat,” ujar kak Saipul sambil tertawa.

Kami saling berpandangan. Ada kelegaan di hati.

“Kok bisa ya buat suara seperti itu?” tanya Hairul agak bingung, tapi sudah mampu tersenyum.

“Tinggal download dari youtube, copi ke Handphone, didekatkan ke Megaphone, hehehehehhe,” ujar kak Mukhlis yang tiba-tiba muncul sambil menenteng Megaphone.

“Terus tubuh wanita dengan seragan SMA yang tergantung di pohon itu gimana buatnya Kak,” tanyaku.

“Apa Al?” tanya kak Ridwan.

“Ya Kak, tubuh yang tergantung dengan mata melotot dan lidah terjulur,” kata Anton.

Kak Ridwan, Mukhlis dan Kak Saipul saling pandang. “Benar yang kamu katankan Al?” tanya Kak Ridwan.

“Benar Kak, malah cairan dari lidahnya yang terjulur kena wajahku,” ujar Andre.

“Ada-ada saja kakak-kakak ini, kreatif benar,” kataku sambil merapikan ransel

“Kami tidak membuatnya, hanya suara-suara yang kami buat,” kata Kak Ridwan gemetar.

“Jadi yang tergantung tadi…?”

Kami saling berpandangan dengan rasa takut dan cemas, bulu tengkuk seakan meremang dan hawa dingin aneh menerpa.

***

Elvi Ansori, Komunitas Ayo Menulis Bengkulu

Foto ilustrasi perkemahan di tengah alam

182 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

iklan khusus