JAKARTA, PB – Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebuadayaan (Kemenko PMK), Prof. Dr. Agus Sartono, MBA mengatakan negara yang maju dan makmur adalah negara yang memiliki ketahanan dalam bidang sains, teknologi dan inovasi (STI) yang baik.

“Untuk menjadi negara yang maju kita harus menguasai sains teknologi dan menguasai inovasi dengan 75 persen teknologinya dihasilkan oleh negaranya sendiri,” ucap Prof. Agus Sartono di Kantor Kemenko PMK, baru-baru ini.

Guru Besar Ilmu UGM itu berpendapat, negara yang didukung oleh kemajuan sains, teknologi, dan inovasi, akan memiliki kekuatan perekonomian nasional yang berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, kata Agus, pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu langkah strategis yang diperlukan guna memberikan kemajuan sains, teknologi dan inovasi pada sebuah negara.

Sebelumnya, Indonesia telah mengundang mitra internasional, termasuk dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai mitra strategis dalam bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas sains, teknologi, dan inovasi (STI) yang akan dijalankan selama tiga tahun (2018-2020).

Menurut Agus, melakukan kolaborasi dengan nagara yang dianggap maju dalam STI, dalam hal ini Indonesia-Tiongkok merupakan suatu langkah yang sangat strategis.

“Melalui kerjasama ini, kita bisa mengembangkan bidang pertanian, perikanan, industri pengolahan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, dan lain sebagainya,” jelas Agus.

Disisi lain, pengawal isu pendidikan di Kemenko PMK itu juga menyampaikan, pemerintah Indonesia harus terus mendorong hasil riset dari perguruan tinggi untuk bisa diindustrikan, mengingat kebutuhan teknologi di Indonesia masih banyak diimpor dari negara lain.

“Saat ini kita membutuhkan sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada hafalan saja tetapi mulai menggantikannya dengan yang bersifat berpikir kritis dan inovatif,” tutur Agus. [anr/ram]