Published On: Kam, Des 7th, 2017

Menduniakan Batik Besurek

Salah satu peserta Karnaval Batik Internasional tahun 2017 memerkan busana hias yang berbahan Kain Besurek, Rabu (6/12/2017). Foto Media Center Kominfo Kota Bengkulu

SEBAGAI salah satu warisan budaya Indonesia dari Provinsi Bengkulu, batik Besurek harus dilestarikan.

Namun upaya untuk melestarikannya memang tak semudah melepas kancing baju. Jumlah pembatik tulis kain Besurek kian merosot seiring perkembangan industri batik cetak dari luar Bengkulu.

Pada daerah-daerah lain, khususnya di Pulau Jawa seperti Pekalongan, Solo dan Jakarta, proses regenerasi pembatik berjalan dengan baik. Sebuah proses yang sulit ditemukan di Bengkulu.

Pemerintah bukan tidak ada upaya. Upaya paling hebat dilakukan oleh Pemerintah Kota Bengkulu. Sejak dipimpin Walikota Helmi Hasan, diadakan karnaval batik dari skala lokal tahun 2014, provinsi tahun 2015, nasional tahun 2016, hingga internasional pada tahun ini.

Bersama Karnaval Batik Internasional yang baru saja selesai itu, diadakan pula bazar, festival musik, aneka lomba, pameran kain batik etnik, kerajinan tangan tradisional, berbagai barang seni, suvenir, hasil penelitian dan pengembangan tentang pewarnaan batik, investasi potensial, dan seni busana.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan kekagumannya atas Karnaval Batik Internasional 2017 ini. Menurutnya, ini adalah contoh atraksi budaya dan buatan yang sempurna. Dengan karnaval ini, industri batik daerah didorong maju sekaligus menjadi ajang yang baik untuk mempromosikan Bengkulu sebagai destinasi wisata.

Upaya lain dilakukan Pemerintah melalui Bank Indonesia. Pembinaan dan promosi Kain Besurek telah dilaksanakan oleh bank plat merah ini dengan cukup baik. Namun tetap saja, upaya pembinaan itu belum cukup untuk memasyarakatkan Kain Besurek.

Buktinya, tatkala ada hajatan pesta pernikahan, batik khas provinsi lain justru lebih banyak dikenakan. Penggunaan batik Besurek lebih banyak dikenakan oleh pegawai dan pelajar, karena diikat oleh aturan, bukan kesadaran.

Tantangan lain yang dihadapi batik yang muncul bersamaan dengan masuknya Islam ke Bengkulu pada awal abad ke-16 ini adalah tren busana zaman sekarang.

Sebagaimana yang diungkapkan Samuel Wattimena, perancang busana top Indonesia, Kain Besurek perlu mengikuti perkembangan zaman, meski tanpa mengubah bentuk karakter atau simbol yang khas pada batik ini. Perubahan diperlukan untuk menarik minat konsumen.

Dicontohkan Samuel, produksi batik Besurek jangan hanya terpatok pada busana untuk dua musim di Indonesia, hujan dan kering. Untuk mencapai pasar dunia, batik Besurek harus dirancang untuk musim semi, musim panas, musim dingin, dan musim gugur.

Batik Besurek harus memiliki corak dan model yang bisa digunakan untuk di pantai, di gunung, bisa digunakan untuk bersantai, untuk hajatan, untuk berkantor, untuk pengajian, untuk arisan, dan untuk keperluan-keperluan lainnya.

Untuk sampai memampukan Bengkulu dalam merancang corak dan model seperti itu, mungkin diperlukan sebuah upaya lebih, terutama yang bisa dilakukan oleh Pemerintah.

Misalnya dengan menciptakan sebuah Kampung Batik Besurek. Bagaimana dengan adanya penciptaan kawasan Kampung Batik Besurek ini, membatik dijadikan sebagai tren di kalangan warganya.

Pemerintah sendiri mengalokasikan kredit lunak seperti Dana Bergulir Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake) untuk setiap produsen Batik Besurek di kampung itu, memobilisasi seluruh hasil-hasil penelitian pengembangan Batik Besurek ke kampung itu, dan memberikan jaminan pasar bagi setiap kain batik yang diproduksi oleh kampung itu.

Hanya dengan kemampuan memproduksi kain berkualitas tinggi sesuai perkembangan zaman yang bisa digunakan dalam setiap keadaan di satu sisi, kemudian terus menggelar promosi besar-besaran dalam Karnaval Batik Internasional di sisi yang lain, mimpi menduniakan Batik Besurek dapat terwujud.

250 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

iklan khusus