Published On: Sel, Des 5th, 2017

Pendidikan Karakter Perlu Diperkuat

JAKARTA, PB – Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada seberapa kuat karakter positif yang dimiliki oleh bangsanya.

Inilah yang dikatakan Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Prof Dr Agus Sartono MBA dalam menyikapi pendidikan karakter anak zaman sekarang.

Menurut Agus, generasi muda saat ini secara tampak masih kurang memegang penuh terkait nilai-nilai yang ada dalam pendidikan karakter yang diajarkan.

Menurutnya, banyak yang masih malas untuk membaca dan belajar, kurang memiliki daya saing dan kurang kreasi, merokok, tawuran, hingga narkoba.

“Saat ini kita berharap bahwa proses pendidikan mampu membentuk kualitas pribadi warga negara yang cerdas dan berkarakter dan itu diwujudkan melalui peran seorang Guru,” tutur Agus, belum lama ini.

Guru besar Ilmu Ekonomi UGM itu melihat, bahwa guru memiliki peranan yang sangat vital dalam membentuk karakter bangsa.

Jika guru berperan secara optimal, maka calon Generasi Emas Indonesia Tahun 2045 yang diharap-harapkan pasti akan terwujud.

“Inilah tantangan yang harus dihadapi guru saat ini,” ucap Agus.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Hadirnya guru, kata Agus, akan memberikan andil besar dalam membentuk karakter bangsa yang ditanamkan sejak usia dini.

“Karena itu, guru harus terus menjadi sosok teladan bagi para muridnya di sekolah, begitu juga dengan orang tua yang menjadi guru di tengah keluarga, atau atasan kepada bawahannya di lingkungan kerja,” terang Agus.

Kemenko PMK dalam hal ini terus mengawal pendidikan karakter melalui koordinasi yang dilakukan dengan K/L terkait.

Terakhir, Agus berharap pada zaman sekarang ini tantangan pendidikan karakter muncul di berbagai sektor. Karena itu, pelaksanaan pendidikan karakter ini harus dilakukan oleh semua pihak dari pemerintah, swasta, lingkungan sekolah, masyarakat, hingga keluarga.

“Mereka para orang tua biasanya menganggap kalau anaknya sudah disekolahkan berarti pendidikan karakter jadi urusan sekolah, ini yang salah kaprah,” ungkapnya. [anr/ram]

75 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

iklan khusus