Walikota Helmi Hasan (berpeci putih) menghadiri acara Pemberdayaan PKL yang digelar Disperindag Kota Bengkulu, Rabu (20/12/2017).

BENGKULU, PB – Walikota Bengkulu Helmi Hasan menyampaikan penataan pasar harus dilakukan secara bertahap. Hal ini berkaca dari penataan Pasar Barukoto dan Pasar Minggu.

“Proses penguraian pasar tidak mudah. Tapi dengan tekad yang bulat, Barukoto yang dulu sepi bisa berubah. Begitu juga Pasar Minggu yang pembangunanannya sekarang bisa berjalan,” ungkap Helmi Hasan, Rabu (20/12/2017).

Saat ini, sambungnya, masih ada Pasar Panorama yang belum terselesaikan masalahnya. Mengurai pasar permasalahan pasar tersebut juga tidak bisa dilakukan seperti mencabut rambut dalam tepung.

“Kita harus perlahan melakukan pendekatan. Dulu waktu menyelesaikan persoalan Pasar Minggu juga saya harus puluhan kali bertemu langsung dengan pedagang yang ada disana,” ungkapnya.

Lihat juga : Prioritas 2018, Jalan Lingkungan dan Pasar

Menurutnya, permasalahan pasar Panorama berawal dari timbulnya delik hukum. Hal ini membuat penataan pasar menjadi mandeg dan tak bisa diselesaikan hingga saat ini.

“Pasar Panorama ini kan pasar percontohan nasional. Tahap pertama sudah dibangun tapi tahap kedua tidak bisa dilaksanakan karena sempat ada permasalahan hukum. Akhirnya Rp30 miliar sisanya tidak bisa dicairkan,” paparnya.

Ia menambahkan, pemerintah kota juga tidak bisa melanjutkan pembangunan.

“Kalau APBD masuk nanti salah,” imbuhnya.

Helmi menilai pembangunan pasar Panorama ini memerlukan dukungan semua pihak. Baik dari UPTD pasar, satpol PP, OPD terkait, dan lainnya.

“Paling tidak saat ini harus dipastikan tidak ada pungli disana dan tidak boleh represif karena ini manusia (pedagang, red),” ujarnya.

Simak juga : Instruksi Walikota, Tahun Depan Pasar Rakyat Tak Bau dan Becek

Adik Ketua MPR RI ini optimis, persoalan pasar di Kota Bengkulu ini pasti selesai. Dia bahkan mengaku sudah menemui langsung Presiden Jokowi agar pembangunan Panorama dilanjutkan.

“Dari sekian banyak persoalan pasar,
Barukoto yang dulu mati sekarang hidup. Semua ini harus dilakukan bertahap,” pungkasnya. [Tedi Cahyono]