Published On: Rab, Des 13th, 2017

Waspadai Penyakit Katastropik, Himbauan Kemenko PMK untuk Generasi Muda

JAKARTA, PB – Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan tahun 2016, penderita penyakit katastropik di Indonesia seperti jantung, stroke, diabetes, kanker, ginjal, hepatitis, thalasemia, leukemia, hemophilia telah mencapai 22 lebih dari juta orang.

Selain itu, pengobatan penyakit katastropik ini juga menghabiskan anggaran sebesar Rp1,69 triliun.

“Hal ini harus diwaspadai, karena banyak dari penyakit ini tidak saja menyerang mereka yang telah berusia lanjut tetapi juga menyerang generasi muda” jelas Asisten Deputi bidang Koordinasi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK, Meida Octarina, baru-baru ini.

Perubahan tren penyakit katastropis yang sekarang menyerang generasi muda tidak lepas dari gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, mengkonsumsi makanan tidak sehat, kurang olahraga dan lainnya.

“Banyak dari generasi muda yang tidak menyadari pentingnya gaya hidup sehat” tambah Meida.

Terkait peningkatan angka prevalensi penyakit katastropik, Meida menjelaskan, pemerintah telah melakukan langkah koordinasi khususnya dengan Kementerian Kesehatan dalam mengimplementasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dengan perwujudan kegiatan peningkatan aktifitas fisik, pengukuran kebugaran dan kegiatan promosi kesehatan misalnya dengan bazar sayur dan buah-buahan.

“Saya yakin, ketika ada perubahan perilaku hidup sehat maka akan merubah kehidupan menjadi lebih baik sehingga kita bisa melakukan pencegahan dan hal ini dilakukan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat,” tuturnya lagi.

Dorong Masyarakat Terapkan Germas

Gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga, mengkonsumsi makanan tidak sehat, merokok, dan mengkonsumsi minuman keras menjadi sumber utama terus meningkatknya angka penyakit katastropik di Indonesia.

Untuk itu, Kemenko PMK mendorong masyarakat untuk dapat menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sehingga dapat terhindar dari penyakit katastropis.

“Karena itu Germas membawa tiga misi penting yakni aktivitas fisik, makan buah-buahan dan sayuran, serta cek kesehatan” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK Sigit Priohutomo.

Lebih lanjut, Sigit menjelaskan Germas perlu digalakkan di tengah mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tak gemar berolah raga dan kurang peduli dengan kesehatan itu.

“Umumnya, orang baru melakukan cek setelah sakit” tambah Sigit.

Germas yang mendorong hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi, melakukan olah fisik dan menjaga kebersihan lingkungan, bisa menyumbang kesehatan sebesar 30 persen.

Namun, penyumbang kesehatan terbesar 70 persen adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat sendiri, seperti cuci tangan, pakai sabun sebelum dan sesudah makan, gosok gigi, tidak merokok, dan perilaku untuk tidak buang air sembarangan.

Kemenko PMK, menurut Sigit, menargetkan pada tahun 2017 ini, seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintahan provinsi, dengan segala elemennya, telah mempraktekkan GERMAS.

Gerakan ini tidak menuntut banyak. Selain makan sayur dan buah, mengecek kesehatan, Germas juga menyerankan olah raga ringan berupa peragangan otot setiap jam 10 pagi dan jam 3 sore, masing-masing selama lima menit. [anr/ram]