Super Blue Blood Moon [Courtesy of Youtube]
SORE ini, Rabu (31/1/2018), publik akan disuguhkan salah satu tanda kebesaran Tuhan yaitu fenomena gerhana bulan total. Fenomena ini disebut lembaga antariksa Amerika Serikat NASA dengan sapaan ‘Super Blue Blood Moon‘.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana ini merupakan gerhana langka dan terlama di abad ini. BMKG mengimbau kepada warga untuk mewaspadai banjir rob ketika Supermoon, dan hujan lebat serta angin kencang hingga sepekan ke depan di sebagian wilayah Indonesia.

Disebut langka karena ada tiga fenomena alam pada 31 Januari 2018 yakni Bluemoon, Supermoon, dan gerhana bulan total dalam waktu bersamaan yang akan berlangsung selama 5 jam 20,2 menit, tepatnya dari pukul 17.49 WIB hingga 23.09 WIB. Di Indonesia, fenomena ini dapat diamati secara jelas.

Tidak ada hal mistik dari sebuah fenomena gerhana. Seperti pernah dikatakan Nabi Muhammad, semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya. Ketika terjadi gerhana matahari persis setelah anak kesayangannya Ibrahim meninggal, kaum Muslimin menganggap peristiwa ini sebagai mukjizat.

Mendengar kabar tersebut, Nabi Muhammad menemui kaum Muslimin dan menegaskan terjadinya gerhana matahari tidak ada kaitannya dengan kematian Ibrahim.

Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah, yang tidak ada hubungannya dengan kematian atau hidup seseorang. Kalau kalian melihat hal itu, maka berlindunglah kepada Allah dengan dzikir dan doa, sabda beliau.

Selaras dengan perkembangan teknologi, para ilmuwan membuktikan benarnya ucapan Nabi Muhammad bahwa tidak ada hal mistik dari adanya gerhana tersebut, bahwa gerhana adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang dapat diamati melalui hukum-hukum keseimbangan tata surya.

Saat ini, ahli-ahli astronomi melalui serangkaian pengamatan telah dapat menyimpulkan waktu-waktu kapan terjadinya gerhana matahari dan bulan. Inilah yang benar. Sesuai dengan hukum alam.

Demikian pula dalam bidang kehidupan manusia. Meski manusia memiliki kemampuan untuk melakukan rekayasa sosial, namun ada batas-batas dimana manusia tidak bisa melampauinya, sama seperti perputaran matahari dan bulan, punya waktu yang tidak bisa bergeser, kecuali Tuhan berkehendak lain.

Dalam hal politik pun demikian. Allah memiliki hak mutlak untuk memberikan kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan mencabut dari siapa yang Dia kehendaki, menurut hukum alam, tanpa dapat diubah dan ditukar-tukar.

Kita sendiri di Bengkulu telah melihat dengan kepala telanjang bagaimana seorang Gubernur yang tadinya demikian dihormati, jatuh terpuruk. Atau bagaimana seorang yang tadinya tidak diperhitungkan sama sekali, mampu menjadi seorang Gubernur.

Demikian pula ada seorang Walikota yang coba hendak dikriminalisasi, namun karena serentetan peristiwa ajaib, mampu keluar dari jerat hukum dengan cara dan mekanisme yang tak disangka-sangka.

Kalau kekuasaan itu sesuatu yang given (diberikan), bila dalam politik ada keniscayaan yang tak bisa dihindarkan, lantas kenapa kita harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya? Kenapa pula kita harus menebar fitnah, kebencian, aib, dan berburuk sangka untuk mendapatkan kekuasaan?

Manusia hanya dapat memuliakan dirinya bila mengikuti apa yang telah menjadi kehendak Allah, berusaha untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan sekuat tenaga, hingga ajal datang menjemput. Mari berpolitik dengan santun dan beradab untuk Bengkulu yang lebih baik dan bermatabat.

Sebab, sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Najm Ayat 39, manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya. Jadilah politisi yang merakyat, bila ingin dicintai rakyat. Jadilah manusia yang taat dan bijak bila ingin menjadi manusia hebat.