Albert Einstein dan kekasihnya Margarita Konenkova. [Foto IST/Circa 1946]
Siapa yang tidak kenal Albert Einstein? Setidaknya, kalau anda pernah mengecap bangku sekolah, pasti kenal dengan ilmuwan besar penemu teori relativitas itu.

Tetapi, siapa sangka, di balik ketangguhannya otaknya yang mengguncang dunia ilmu pengetahuan, Einstein hanyalah sebutiran debu di hadapan seorang perempuan Rusia.

Tersebutlah nama Margarita Konenkova. Lahir di pinggiran Rusia, pada 1884, Margarita tumbuh menjadi wanita berparas menarik dan memikat banyak laki-laki pesohor kebudayan Rusia, seperti penyair Feodor Shalyapin dan komposer Sergei Rachmaninoff.

Yang lebih luar biasa lagi, Margarita juga adalah agen Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB), badan intelijen pemerintahan komunis Uni Soviet.

Yang unik lagi, ketika menjalin hubungan dengan Einstein, Margarita sudah berstatus istri dari seorang pematung terkenal Soviet, Sergei Konenkov.

Pada 1923, pasangan Margarita-Sergei bermukim di Amerika Serikat. Di negeri yang menjadi musuh nomor wahid Soviet itu, Sergei tetap jadi pematung. Sedangkan istrinya jadi sosialita yang rajin menghadiri kegiatan sosial.

Hingga pada suatu hari, Sergei mendapat kerjaan dari Universitas Princeton, yakni memahat patung kecil Albert Einstein. Kerjaan itulah yang mempertemukan Einstein dan Margarita.

Saat itu usia keduanya sudah sepuh: Einstein berusia 66 tahun, sedangkan Margarita sudah 51. Tetapi, seperti kata-kata bijak, cinta tak mengenal usia, usia sepuh tak menghalangi keduanya untuk saling menautkan perasaan.

“Einstein adalah pria yang sangat sederhana, bercanda bahwa dia terkenal hanya karena kekayaan rambutnya,” tulis Margarita dalam memoarnya, seperti dikutip oleh Oleg Yegorov di RBTH Indonesia.

Di depan sang pujaan hati, Einstein kerap mendiskusikan teori relativitasnya. Kendati Margaria kesulitan untuk memahami teori yang menggambarkan cara kerja kosmos itu.

Di sisi lain, saat itu, Amerika tengah mengembangkan apa yang disebut “Proyek Manhattan”, proyek pengembangan nuklir yang pertama. Uni Soviet sangat ingin mendapat informasi mengenai proyek tersebut.

Pavel Sudoplatov, seorang petinggi Dinas Intelijen di era Stalin, mengakui Margarita sebagai agen Soviet yang ditugaskan mematai-matai proyek nuklir AS.

Tugas Margarita, yang diberinama samaran “Lukas”, adalah mempengaruhi Robert Oppenheimer dan ilmuwan Amerika lainnya untuk mendapat informasi tentang perkembangan bom nuklir AS. Robert adalah fisikawan yang memimpin proyek bom atom AS saat perang dunia ke-II.

“Di Princeton, dia dekat dengan Einstein dan [Robert] Oppenheimer… dia berbicara dengan Oppenheimer untuk mempekerjakan orang garis kiri. Agen kami siap bekerja sama dengan mereka,” tulis Sudoplatov dalam buku memoarnya, Special Tasks.

Dalam konteks itu, Einstein juga tinggal di Princeton. Dan sebagai fisikawan terkemuka, meskipun tidak terkait langsung dengan proyek Manhattam, Einstein bisa menjadi jalur pembuka untuk mengenal Oppenheimer dan ilmuwan Amerika lainnya.

Dan benar saja, atas dorongan Margarita, Einstein akhirnya bersedia bertemu dengan Pavel Mikhailov, seorang konsul Soviet di New York yang juga bekerja sebagai mata-mata. Konon, Einstein melakukan itu demi kekasihnya.

Dengan terkuaknya peran Margarita sebagai agen soviet itu, banyak yang mempertanyakan kemurnian cinta wanita Soviet kepada Einstein. Apakah dia benar-benar mencintai Einstein atau sekedar menjalankan misi?

Faktanya, setelah berakhirnya perang dunia kedua, Margarita dan suaminya kembali ke Soviet. Oleh Stalin, keduanya mendapat perlakuan dan fasilitas khusus. Kuat dugaan, pekerjaan Margarita dan suaminya dianggap berhasil.

Sementara Einstein yang ditinggal sendiri di Amerika merasakan kesepian berat. Tidak sanggup dijepit rasa rindu yang amat dalam, Einstein mengirim berlembar-lembar surat ke Moskow.

Sembilan surat Einstein ke Margarita, yang ditulis antara November 1945 hingga Juli 1946, ditemukan pada 1998, memperlihatkan galau berat sang ilmuwan setelah ditinggal sang kekasih.

“Segala hal di sini mengingatkan saya pada Anda… semua hal kecil di ruangan saya,” tulis Einstein.

Belum ada yang tahu, apakah Margarita merasakan hal serupa. Atau, setelah misi itu selesai, rasa cinta juga selesai. Belum ada yang tahu pasti. [Raymond Samuel/Berdikari Online]

Sebagian sumber dari tulisan ini diambil dari: RBTH bahasa Indonesia