Forida, 22 tahun, adalah operator mesin jahit di sebuah pabrik tekstil di Dakah, Bangladesh. Dia sering bekerja 12 jam per hari untuk memproduksi pakaian dengan merek ternama, seperti H & M dan Target. Kadang-kadang, pada siklus produksi yang sibuk, jam kerjanya lebih lama lagi.

“Tahun lalu, saya bekerja sampai tengah malam selama sebulan penuh,” katanya. “Saya sering sakit. Saya kadang stress karena memikirkan anakku di rumah. Dan ketika pulang kerja, saya membersihkan rumah dan memasak, lalu kembali bekerja keesokan harinya. Saya pergi tidur jam 02.00 subuh dan bangun jam 05.30 pagi setiap harinya.”

Bahkan, meski digabung dengan gaji suaminya, keluarga Forida nyaris tidak punya makanan yang cukup untuk dimakan setiap harinya.

Sementara CEO dari pakaian merek ternama hanya butuh bekerja empat hari untuk pendapatan setara dengan pendapatan pekerja garmen yang bekerja seumur hidupnya.

Kisah tentang Forida menjadi bagian dari laporan yang dirilis oleh organisasi anti-kemiskinan, Oxfam. Laporan berjudul “Reward Work, Not Wealth” itu menunjukkan betapa ekonomi global hanya memperkaya 1 persen, sementara ratusan juta manusia berjuang untuk bertahan hidup.

Oxfam menemukan, 82 persen kekayaan global yang tercipta tahun lalu hanya jatuh ke tangan 1 persen manusia terkaya di dunia. Dengan kata lain, empat dari lima dollar kekayaan yang tercipta di tahun 2017 masuk ke kantong 1 persen orang terkaya.

Sementara miliarder baru tercipta setiap hari, sebanyak 3,7 milyar atau setengah dari populasi dunia tidak meningkat kekayaannya sama sekali sejak tahun lalu.

“Booming miliarder bukan pertanda perkembangan ekonomi, melainkan gejala kegagalan sistim ekonomi,” kata Direktur Eksekutif Oxfam, Winnie Byanyima.

“Orang yang membuat pakaian kita, merakit ponsel kita, dan memelihara bahan pangan kita adalah yang palin tereksploitasi untuk memastikan pasokan barang murah dan membengkakkan keuntungan perusahaan dan miliarder.”

Oxfam juga melaporkan bahwa 42 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan yang setara dengan kekayaan separuh dari penduduk dunia.

Sejak 2010, kekayaan para miliarder meningkat 13 persen, lebih tinggi enam kali lipat dibanding kenaikan pendapatan rata-rata pekerja.

Berdasarkan temuan Oxfam, faktor utama yang berkontribusi pada penumpukan kekayaan ini adalah erosi hak-hak pekerja, pengaruh korporasi dalam pengambilan kebijakan politik dan perburuhan, penggelapan pajak, dan pemangkasan biaya produksi untuk keuntungan perusahaan.

“Badai besar yang menaikkan posisi tawar dari orang-orang kaya, sembari menjungkalkan daya tawar mereka yang di bawah,” kata Wakil Presiden Oxfam Amerika untuk bidang kebijakan dan kampanye, Paulus O’Brien.

“Jika ketimpangan ini tidak terselesaikan, ini akan menjebak makin banyak orang dalam kemiskinan dan merusak masyarakat mendatang,” imbuhnya.

Oxfam mencatat, kebijakan Presiden Trump turut memperlebar jurang kesenjangan antara kaya dan miskin. Semakin memperkuat golongan 1 persen untuk memperdaya kelas pekerja Amerika.

Sejak menjabat, Trump membentuk kabinet yang berisikan paling banyak miliarder dalam sejarah Amerika. Dan gabungan kekayaan mereka lebih besar dari 100 juta orang termiskin di Amerika.

Oxfam mencatat, kebijakan Trump soal pajak dan reformasi kesehatan sangat memihak kaum super-kaya.

Sementara itu, tiga orang terkaya di Amerika memiliki kekayaan setara dengan kekayaan separuh dari populasi Amerika yang termiskin.

Data itu menterang-benderangkan penderitaan orang-orang miskin di Amerika. Laporan Oxfam, termasuk kisah Dolores, bekas pekerja unggas di Arkansas. Dia dan teman kerjanya hanya beristirahat sekilas di kamar mandi pabrik dan dipaksa memakai pokok saat bekerja.

“Ini memang tampak tidak layak,” kata Dolores. “Kami tiba jam 5 pagi…sampai jam 11 atau 12, kami tidak boleh ke kamar mandi. Saya kadang malu memberi tahu mereka bahwa saya ganti popok.”

Bekerja di industri unggas merupakang satu pekerjaan paling beresiko cedera di Amerika. Oxfam mencatat, beberapa pekerja melaporkan bahwa mereka tidak mampu meluruskan jari mereka, memegang sendok, dan bahkan tidak bisa menyentuh anak mereka.

Di seluruh dunia, tenaga kerja paling miskin menjadi bahan bakar bagi lonjakan konsentrasi kekayaan.

“Pekerjaan paling berbahaya, dibayar sangat murah, hanya untuk kemakmuran segelintir orang,” tulis Oxfam.

“Perempuan menempati pekerjaan paling buruk, sementara hampir semua manusia super-kaya adalah laki-laki.”

“Pemerintah harus membuat masyarakat yang lebih setara, dengan memprioritaskan pekerja rendah dan produsen makanan skala kecil, ketimbang orang kaya dan berkuasa.”

Benjamin DanglPhD dalam studi sejarah dari McGill University dan editor Toward Freedom, sebuah media berperspektif progressif. Dia bisa dihubungi di twitter: @BenDangl

Artikel ini sebelumnya dimuat di https://towardfreedom.com. Dialihbahasakan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Rini Hartono dan dirilis di laman berdikarionline.com

Keterangan foto: sebuah pemandangan di kota São Paulo, Brazil. Tampak sebuah pemukiman kumuh yang berdampingan dengan pemukiman super-elit. (Credit: Tuca Vieira / Oxfam)