Penjabat Walikota Budiman Ismaun (kiri) bersama mantan Walikota Bengkulu Helmi Hasan dalam sebuah kegiatan di Sport Center Pantai Panjang, beberapa waktu yang lalu.

KEPALA Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu, Budiman Ismaun, resmi dilantik dan diangkat sumpah oleh Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Rohidin Mersyah sebagai Penjabat Walikota di Balai Raya Semarak, Senin 22 Januari 2018. Budiman akan memimpin Kota Bengkulu dalam beberapa bulan hingga dilantiknya Walikota dan Wakil Walikota definitif yang akan dipilih pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang.

Bila melihat peta persoalan yang ada di Kota Bengkulu, maka tugas Penjabat Walikota akan terpampang dengan jelas. Persoalan itu adalah masih tingginya angka kemiskinan, fasilitasi sertifikasi lahan milik warga Kampung Sejahtera, banjir yang kerap menghantui tatkala hujan deras, penataan Pasar Panorama yang belum tuntas, dan mensukseskan agar Pemilihan Walikota (Pilwakot) dapat menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Sebagai sosok yang memiliki integritas, publik tentu menaruh ekspektasi yang tinggi agar Budiman Ismaun dapat menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut dengan baik. Sebab, sebuah kekuasaan, baik lama ataupun sebentar, harus dibangun dalam kerangka menyelesaikan persoalan bersama.

Anjuran Plt Gubernur agar Budiman dapat menyelesaikan agenda-agenda seperti Bank Bengkulu harus segera dijadikan mitra kerjasama dan penataan kawasan Pantai Panjang harus dianggap sebagai motivasi sampingan setelah persoalan-persoalan yang lebih penting dan mendesak seperti kemiskinan dan pengangguran dapat terselesaikan.

Jalan untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran itu sendiri sebenarnya sudah cukup terbuka lebar dengan adanya program Dana Bergulir Satu Miliar Satu Kelurahan (Samisake) yang regulasinya telah tuntas direvisi dan disahkan oleh DPRD Kota Bengkulu. Penjabat Walikota tinggal memastikan bahwa program ini berjalan dengan baik dan dirasakan manfaatnya oleh warga kota yang memang membutuhkan modal untuk berwirausaha dengan serius.

Tugas Penjabat Walikota sendiri juga relatif lebih ringan mengingat massifnya pembangunan infrastruktur khususnya jalan yang telah dilaksanakan selama kurun waktu lima tahun terakhir. Penjabat Walikota tinggal menyelesaikan sisa infrastruktur yang belum terbangun dibeberapa kawasan, khususnya jalan-jalan kota yang rusak yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan berkoordinasi kepada Plt Gubernur untuk memperbaikinya.

Yang terberat dari semua tugas Penjabat Walikota adalah mengawal agar Pilwakot dapat menghasilkan pemimpin yang mampu membawa kemajuan-kemajuan besar bagi Kota Bengkulu kedepan. Sebab, Pilwakot bukan sekedar rutinitas pemilihan belaka, namun menyangkut masa depan rakyat.

Keberhasilan Pilwakot tidak boleh hanya diukur dengan suksesnya pelaksanaan belaka, namun Pilwakot harus melahirkan pimpinan politik yang mampu menjawab kebutuhan warga kota. Karena itu, Penjabat Walikota harus mampu mendorong partisipasi warga kota seluas-luasnya dalam pemilihan kelak.

Dalam hal ini, seluruh kandidat harus dianggap sebagai putra dan putri terbaik Kota Bengkulu. Mereka semua adalah anugerah bagi warga Bengkulu yang dihuni oleh multietnis. Bengkulu adalah kota tujuan dimana warga-warga miskin di kabupaten tetangga berurbanisasi dengan harapan dapat mengubah nasibnya. Semua ini tentu membutuhkan watak kepemimpinan yang unggul yang harus didapat dalam Pilwakot kali ini.

Akhirnya, Penjabat Walikota harus memainkan perannya dengan baik, disatu sisi agar dapat menuntaskan persoalan yang ada didepan mata, disisi lain dapat memberikan jalan bagi lahirnya kepemimpinan yang akan membawa perubahan bagi Kota Bengkulu ke arah yang dicita-cita oleh warganya, dimana semua orang miskin dapat tertolong ketika sakit, kelas menengah dapat berusaha dengan baik melalui infrastruktur yang memadai, dan pengangguran dapat berwirausaha ketika mereka mulai frustasi.

Warga kota menunggu langkah jitu Penjabat Walikota Bengkulu.