Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Bengkulu saat menggelar aksi dalam rangka Hari Kartini di Simpang Lima Ratu Samban, tahun lalu. [Foto Istimewa]
KOTA Bengkulu belum pernah dipimpin oleh seorang perempuan. Namun peristiwa fenomenal terjadi dalam Pemilihan Walikota (Pilwakot) tahun 2018 ini. Jelang penutupan pendaftaran Calon Walikota dan Wakil Walikota oleh partai politik pada 10 Januari 2018 kelak, empat nama srikandi telah muncul ke permukaan.

Mereka adalah Patriana Sosialinda dengan koalisi Partai Golkar, Hanura dan PDIP. Erna Sari Dewi dengan koalisi Partai Nasdem, PKS dan PPP. Mardiyanti dan Leni Haryati John Latief dengan koalisi yang tampaknya masih disusun.

Munculnya nama-nama srikandi Bengkulu sebagai kandidat walikota menunjukkan mulai terkikisnya sekat penghambat partisipasi politik perempuan di Bengkulu. Dalam artian, anggapan sosial bahwa tugas perempuan hanya sekedar sebagai pengurus rumah tangga mulai ditinggalkan.

Keberanian para srikandi tersebut juga membuktikan bahwa perempuan telah memiliki keberdayaan ekonomi yang mumpuni. Sebab, bukan rahasia umum, Pilkada selalu identik dengan biaya politik tinggi. Sedikitnya, setiap kandidat harus menyiapkan sejumlah uang untuk kebutuhan alat peraga dan operasional tim kampanyenya.

Pada Pilkada serentak tahun 2015 yang lalu, terdapat 123 orang calon kepala daerah perempuan dari 1.743 orang calon kepala daerah atau 7,32 persen. Dari 123 itu, sebanyak 35 perempuan berhasil keluar sebagai pemenang.

Kemenangan mereka ada yang berdasarkan dengan prestasi yang memang mereka miliki selama memimpin, karena dinastik politik, namun ada juga karena kemampuan mengambil hati pemilih yang pragmatis dan apatis.

Berkaca pada fakta-fakta tersebut, seluruh srikandi yang tampil dalam Pilwakot Bengkulu 2018 memiliki peluang yang seimbang untuk menjadi kepala daerah berikutnya.

Kehadiran para srikandi ini tentu perlu didorong maju agar bagaimana mereka bisa ditagih untuk memiliki agenda politik yang jelas dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Diantaranya adalah rumusan yang jelas bagaimana mendidik perempuan Bengkulu untuk menyelesaikan persoalan ekonomi mereka, pengenalan akan hak-hak politik perempuan, menyelesaikan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga, dan pemeliharaan kesehatan keluarga.

Memajukan politik perempuan merupakan agenda penting. Sebagaimana adagium yang mengatakan bahwa perempuan adalah tiang negara, jika baik perempuannya, maka baiklah negara itu dan jika rusak perempuannya maka rusak pula negara itu.